Pemeriksaan Kanker Serviks

Pemeriksaan Kanker Serviks

Pemeriksaan Kanker Serviks

Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi di bagian leher rahim wanita, atau daerah di antara vagina dan kantong rahim. Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa kasus kanker serviks merupakan keganasan tertinggi kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus), yang memiliki lebih dari 100 strain virus. Virus HPV yang menjadi penyebab terbanyak kanker serviks adalah virus HPV strain 16 dan 18. Saat ini salah satu pencegahan kanker serviks adalah dengan menggunakan vaksin HPV.

Kapankah waktu yang tepat untuk pap smear? Kemudian berapa kali dalam suatu waktu idealnya melakukan pemeriksaan kanker serviks? Banyak wanita tidak menyadari bahaya kanker serviks sehingga cenderung cuek dan tidak terlalu peduli untuk melakukan deteksi dini. Padahal, pemeriksaan rutin dan dini pada daerah serviks wanita merupakan kunci untuk mencegah kematian karena kanker serviks.

Hal ini berkaitan dengan sifat penyakit yang tidak memberikan gejala pada stadium awal. Lebih dini ditemukan maka kanker serviks dapat lebih cepat ditangani dan harapan hidup meningkat lebih besar ketimbang jika kanker serviks baru diketahui pada stadium lebih lanjut.

 

Tes Deteksi Dini Kanker Serviks

Pemeriksaan kanker serviks perlu dilakukan walaupun wanita tersebut merasa sehat. Beberapa tes untuk mendeteksi kanker serviks:

 

  1. Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Tes IVA merupakan salah satu pemeriksaan kanker serviks yang sangat mudah dilakukan. Pemeriksaan dilakukan dengan pemulasan asam asetat 3-5% pada daerah leher serviks. Hasilnya dapat langsung disimpulkan dan hanya berlangsung selama 5 menit. Tes IVA sebaiknya rutin dilakukan satu tahun sekali setelah menikah. Tes IVA cukup murah jika dibanding sejumlah tes lain untuk deteksi kanker. Tes IVA dapat dilakukan di puskesmas dengan biaya maksimal Rp 25.000.

 

  1. Tes Pap (Pap Smear)

Untuk memeriksa kanker serviks, dokter menggunakan alat bernama spekulum yang dimasukkan ke dalam mulut vagina. Alat ini bisa memperluas lapang pandang dengan membuka mulut vagina sehingga area serviks dan vagina bisa diperiksa lebih teliti. Setelah itu, sampel sel-sel pada serviks akan diambil memakai spatula (seperti sendok kecil bertangkai panjang) plastik dan sikat kecil. Sel-sel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk diuji. Tes Pap memberikan hasil yang lebih akurat daripada tes IVA, namun prosedur pemeriksaan juga lebih rumit. Pada pemeriksaan kanker serviks ini dilakukan pengambilan sel-sel serviks lewat usapan pada daerah serviks. Hasil usapan yang berisi sel-sel serviks ini nantinya akan diperiksa di bawah mikroskop dan disimpulkan dalam waktu 1-2 minggu.

 

  1. Tes LBC (Liquid Based Cytology)/(Pemeriksaan sel berbasis cairan)

Jika pada tes Pap, sel-sel diambil dari usapan dan langsung dioles pada kaca objek, maka pada tes LBC, hasil usapan dimasukkan ke dalam botol berisi cairan khusus sehingga tidak ada sel yang terbuang. Sel-sel kemudian akan diperiksa di bawah mikroskop. Pemeriksaan kanker serviks ini memberikan keakuratan lebih daripada Tes Pap.

 

  1. Tes HPV

Tes HPV dapat dilakukan bersamaan dengan tes Pap atau Tes LBC. Pemeriksaan kanker serviks ini berguna untuk mencari adanya virus HPV pada daerah serviks yang dapat menandakan adanya infeksi HPV dan dapat berpotensi menyebabkan kanker serviks.

 

Pemeriksaan kanker serviks ini sebaiknya dilakukan 3 tahun setelah hubungan seksual yang pertama kali atau ketika sudah berusia 21 tahun dan sudah aktif secara seksual. Setelah itu pemeriksaan rutin perlu dilakukan berdasarkan usia dan hasil pemeriksaan pertama kali. Jika hasilnya normal, pemeriksaan dapat dilakukan setiap 3 tahun sekali, namun jika terdapat masalah maka pemeriksaan mungkin dapat dilakukan lebih sering.

 

Terutama jika memiliki gaya hidup yang berisiko tinggi mencetuskan kanker, diantaranya seperti:

  • Bergonta-ganti pasangan hubungan seksual
  • Intensitas hubungan seks tinggi (sering melakukan hubungan seks)
  • Merokok
  • Pola makan tidak sehat, dan lainnya

 

Pemeriksaan kanker serviks yang rutin ditujukan untuk mendeteksi adanya lesi (perlukaan) prakanker. Bila deteksi dini lesi prakanker dapat dilakukan, maka perubahan lesi prakanker menjadi kanker dapat dicegah dengan tindakan medis seperti bedah krio (cryosurgery), diatermi, dan terapi laser. Tindakan medis pada tahap ini dapat mencegah terjadinya kanker serviks dengan keberhasilan mendekati 100%.

 

 

Pemeriksaan Kanker Serviks

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*