Kanker Ovarium Pada Remaja

Kanker Ovarium Pada Remaja

Kanker Ovarium Pada Remaja

Kanker ovarium pada remaja adalah kondisi di mana tumor ganas tumbuh berkembang di dalan indung telur, di mana sel-sel telur juga hormon wanita (estrogen dan progesteron) dihasilkan. Kanker ovarium jika diketahui pada stadium awal dapat diobati secara efektif. Namun, sangat sulit untuk mendiagnosis penyakit ini pada stadium awal.

 

Seberapa umumkah kanker ovarium?

Kanker ovarium biasa terjadi pada wanita berusia menengah dan wanita yang telah lanjut usia. Kasus yang paling fatal terjadi pada wanita yang berumur di atas 55 tahun. Tapi jangan salah kira wanita muda tidak beresiko terkena penyakit kanker ovarium pada remaja ini. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan mengurang faktor-faktor risiko. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

 

Tanda-tanda & gejala

Tanda-tanda dan gejala kanker ovarium pada remaja biasanya tidak jelas, terutama pada stadium awal. Banyak penderita bahkan dokter dapat keliru dan mengira gejala penyakit ini adalah tanda-tanda penyakit lain. Secara umum, tanda-tanda dan gejala yang biasa terjadi adalah:

  • Perut mengalami kembung dan meregang
  • Mudah merasa kenyang ketika makan
  • Hilangnya berat badan
  • Tidak nyaman di bagian panggul
  • Adanya perubahan pada proses pencernaan, seperti konstipasi
  • Sering buang air kecil

 

Gejala lainnya termasuk:

  • Perubahan pada menstruasi
  • Mual, muntah, pencernaan sulit, anorexia, perut kembung
  • Sakit punggung tanpa alasan yang jelas
  • Terjadi pendarahan di bagian vagina pada saat tidak sedang menstruasi

 

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

 

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Silakan hubungi dokter Anda jika Anda merasakan tanda-tanda dan gejala kanker ovarium pada remaja. Selain itu, jika anggota keluarga Anda ada yang memiliki kanker ovarium atau kanker payudara, maka sebaiknya Anda sering melakukan pemeriksaan untuk pencegahan. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

 

Penyebab

Hingga saat ini dokter tidak memiliki kesimpulan pasti untuk masalah ini. Secara umum, kanker biasanya terjadi dikarenakan adanya perubahan gen pada tubuh kita, yang menyebabkan sel-sel normal berkembang menjadi sel-sel kanker. Kemudian, sel-sel tersebut akan menduplikasi diri dan membuat tumor. Selain itu, sel-sel ini juga menyerang sel-sel sekitarnya dan menyebar ke organ lainnya.

 

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. Selalu konsultasikan pada dokter Anda.

Pembedahan merupakan metode yang paling umum dilakukan untuk pengobatan kanker ovarium tanpa memperhatikan stadiumnya. Untuk stadium-dini, hanya dapat dilakukan metode pembedahan; indung telur dan tuba fallopi akan diangkat jika kanker telah menyebar ke organ tersebut. Selain itu, rahim dan organ lainnya pada bagian panggul dan perut juga akan diangkat jika telah organ tersebut telah terkena kanker. Berikutnya, kemoterapi akan dilakukan untuk menghiangkan sel-sel kanker yang tersisa. Akhirnya, dokter akan meminta pasien untuk sering melakukan pemeriksaan kesehatan.

 

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk kanker ovarium?

Dokter dapat mendiagnosis kanker ovarium pada remaja berdasarkan gejala yang muncul dan uji klinis. Diagnosis dilakukan dengan pencitraan (seperti ultrasonografi, MRI, CT scan) juga dapat memperlihatkan tanda-tanda kanker.

Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah tumor di ovarium termasuk tumor jinak atau ganas. Biopsi adalah metode yang dilakukan dengan cara mengambil jaringan kecil dari tumor untuk dilihat dibawah mikroskop.

Dokter juga dapat melakukan pembedahan untuk mengetahui stadium dari kanker (stadium menunjukan seberapa luas penyebaran kanker). Terkadang, antigen kanker (CA-125, sebuah zat di dalam darah) dapat membantu diagnosis.

 

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker ovarium?

 

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi kanker ovarium:

  • Tetap ikuti pemeriksaan dokter untuk mengikuti perkembangan penyakit juga untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda
  • Ikutilah petunjuk yang diberikan oleh dokter Anda dan jangan mengonsumsi obat tanpa mengonsultasikannya dengan dokter Anda terlebih dahulu. Jangan lupa mengonsumsi obat yang telah dianjurkan oleh dokter Anda.
  • Hubungi dokter Anda mengenai efek samping dari obat yang Anda konsumsi
  • Konsumsilah makanan yang sehat, seperti sayuran, biji-bijian, dengan kandungan lemak yang sedikit
  • Jagalah berat badan Anda dan tetap berolahraga

 

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

 

 

 

Kanker Ovarium Pada Remaja

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dampak Buruk Kanker Rahim

Dampak Buruk Kanker Rahim

Dampak Buruk Kanker Rahim

Kanker rahim merupakan penyakit berbahaya yang menyerang badan rahim tepatnya lapisan endometrium. Jenis kanker ini biasanya menyerang wanita yang usianya telah mendekati masa menopause atau bahkan mereka yang telah memasuki masa menopause.

Terlebih jika penyakit tersebut merupakan penyakit berbahaya seperti kanker rahim. Perubahan yang terjadi pada penderita bisa berasal dari ganasnya sel-sel kanker yang menyerang rahim atau bisa pula sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang tengah dijalani. Dampak buruk kanker rahim yang terjadi antara satu penderita dengan penderita lainnya mungkin berbeda tergantung dari banyak hal, namun secara umum penderita akan mengalami beberapa dampak buruk kanker rahim seperti berikut ini :

 

  1. Kerontokan Pada Rambut

Dalam pandangan orang awam, penderita kanker cukup erat kaitannya dengan kondisi kerontokan pada rambut. Hal ini sebenarnya disebabkan karena salah satu metode pengobatan untuk penderita kanker yaitu kemoterapi. Kemoterapi atau kemo biasanya dilakukan untuk mengobati penderita kanker rahim yang telah memasuki stadium lanjut (stadium 3 dan 4). Metode pengobatan ini dapat dilakukan sebagai metode utama karena penderita tidak ingin menjalani operasi, atau dapat pula dilakukan sebagai pengobatan penunjang penderita pasca menjalani operasi demi menghambat penyebaran kanker dan mengurangi gejalanya. Selain efek samping dari kemoterapi, kerontokan pada rambut pun dapat terjadi akibat efek dari radioterapi. Dampak buruk kanker rahim ini dapat terjadi apabila penggunaan radioterapi ditujukan pada daerah kepala.

 

  1. Mual dan Muntah

Mual dan muntah merupakan salah satu efek yang juga dirasakan oleh penderita kanker rahim. Efek ini juga termasuk akibat dari metode pengobatan kemoterapi. Beberapa penderita bahkan dapat mengalami muntah hingga sebanyak 10 kali dalam sehari ketika kemoterapi telah dilakukan. Namun kondisi ini sangat tergantung dari kesehatan penderita. Semakin baik kondisi kesehatan penderita maka dampak buruk kanker rahim ini pun akan semakin sedikit dirasakan.

Selain sebagai efek dari kemoterapi, pengobatan radioterapi pun ternyata mampu menimbulkan rasa mual dan muntah terhadap penderita. Dampak buruk kanker rahim ini akan dialami oleh penderita jika ia melakukan radioterapi pada bagian perut.

 

  1. Penurunan Berat Badan

Berat badan yang turun secara signifikan dalam kurun waktu singkat merupakan salah satu efek yang sangat terlihat pada penderita kanker rahim. Penurunan berat badan ini dapat disebabkan oleh ganasnya sel kanker yang menyerang ataupun sebagai akibat dari pengobatan yang dijalani. Kemoterapi dan radioterapi nampaknya juga memberikan efek yang cukup banyak terhadap penurunan berat badan, karena kedua pengobatan tersebut menimbulkan rasa mual dan muntah hingga nafsu makan penderita berkurang dan pada akhirnya badan semakin terkikis.

 

  1. Rasa Sakit Pada Beberapa Bagian Tubuh

Kanker rahim yang sudah memasuki stadium lanjut akan mendorong penderitanya untuk terus melakukan segala jenis pengobatan, baik itu operasi, kemoterapi, radioterapi, dan pengobatan lainnya. Segala pengobatan tersebut ditempuh dengan tujuan untuk menyembuhkan penderita dari kanker. Namun kenyataannya dari banyak kasus kanker yang ada, penderita justru merasa semakin lemah akibat melakukan pengobatan secara terus menerus. Tak jarang pula dari mereka yang mengeluh sakit pada beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, perut, punggung, panggul, dll. Rasa sakit ini dapat merupakan efek dari pengobatan yang telah dijalani atau bahkan karena sel kanker yang mulai menyebar ke bagian-bagian tubuh tersebut.

 

  1. Kelelahan yang Sering dan Berkepanjangan

Tak hanya rasa sakit pada tubuh yang dirasakan oleh penderita kanker rahim. Rasa lelah yang berkepanjangan pun kian hari kian dialami. Kondisi ini sebenarnya merupakan efek samping dari kemoterapi dan radioterapi. Selama kedua terapi tersebut dijalani, tubuh penderita akan menggunakan lebih banyak energi untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dampak buruk kanker rahim akan merasa lelah pun seringkali dialami dan biasanya tidak serta merta hilang dengan beristirahat. Namun biasanya rasa lelah ini akan sirna secara bertahap dalam beberapa minggu setelah terapi ini berlangsung.

 

  1. Sakit Kepala

Sakit kepala merupakan dampak buruk kanker rahim yang sering terjadi terutama setelah menjalani operasi histerektomi. Histerektomi merupakan operasi pengangkatan rahim yang biasa dilakukan pada kasus kanker rahim.

 

  1. Rentan Terhadap Penyakit Lain

Pada beberapa kasus kanker rahim, penderita yang menjalani operasi histerektomi menjadi rentan terhadap serangan penyakit lain seperti penyakit jantung, osteoporosis, keluhan pada sendi, keluhan pada perkemihan, dan juga hipertensi. Namun, hal ini sangatlah bergantung pada banyak hal salah satunya adalah usia, kondisi kesehatan penderita secara menyeluruh, dan penyebaran sel kanker.

 

  1. Sulit Berjalan

Kesulitan saat berjalan merupakan efek yang biasanya terjadi pada penderita kanker rahim stadium lanjut yang sudah menjalani pengobatan berulang kali. Kondisi ini termasuk efek samping dari kemoterapi dan juga radioterapi. Memang tidak semua penderita akan mengalami dampak buruk kanker rahim ini tetapi banyak diantara mereka yang mengalaminya, terlebih jika usia penderita sudah memasuki usia lanjut.

 

  1. Perubahan Warna Kulit

Pengobatan dengan metode radioterapi memberikan dampak buruk kanker rahim berupa perubahan pada warna kulit. Beberapa perubahan yang biasanya terjadi adalah kulit akan tampak berwarna kemerahan terutama pada area tubuh yang biasa terkena sinar radioterapi. Selain perubahan warna, biasanya kulit juga mengalami perubahan tekstur seperti kulit menjadi kering, tebal, pecah-pecah, bersisik, terkelupas, gatal, dan terasa perih.

 

Beberapa efek tersebut adalah dampak buruk kanker rahim yang biasa terjadi. Meski demikian efek dari penyakit berbahaya ini mungkin tidak sama antara satu orang dengan orang lain. Meskipun penderita mengalami satu atau beberapa dari efek tersebut namun sebaiknya pengobatan tidak dihentikan, dan jangan lupa untuk tetap berkonsultasi dengan dokter.

 

Dampak Buruk Kanker Rahim

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Kanker rahim adalah sebuah jenis kanker yang menyerang rahim atau sistem reproduksi wanita. Kanker ini juga sering disebut kanker endometrium karena umumnya muncul dengan menyerang sel-sel yang membentuk dinding rahim atau istilah medisnya endometrium.

Para wanita harus lebih waspada terhadap kesehatan rahimnya karena selain kanker serviks, kanker rahim pun mampu membahayakan nyawa. Mungkin kita akan menjadi penasaran apa-apa saja yang menyebabkan kanker rahim di dalam tubuh. Meski belum secara jelas diketahui, berikut di bawah ini bisa dilihat apa saja yang menjadi pemicu terjadinya kanker rahim:

 

  1. Usia

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, usia seorang wanita yang masuk 50 tahun menjadi pemicu terjadinya kanker rahim yang potensinya sangat besar. Apalagi setelah masa menopause, risiko akan menjadi lebih meningkat dari sebelum menopause. Maka check up ke dokter secara rutin sangat dianjurkan sehingga kanker dan penyebarannya bisa diketahui dini.

 

  1. Pajanan terhadap Estrogen

Para wanita wajib untuk berhati-hati dan selalu waspada akan tingginya risiko mengidap kanker rahim, apalagi kalau tingkat pajanan terhadap estrogen makin tinggi. Sesudah menopause, akan terjadi perhentian produksi hormon progesteron, sementara produksi hormon estrogen tetap jalan meski memang terjadi penurunan kadar secara drastis. Setelah menopause selesai, pemicu terjadinya kanker rahim lebih tinggi karena adanya peningkatan kadar hormon estrogen yang tak seimbang dengan hormon progesteron.

Tapi para wanita yang mulai datang bulan di usia yang sangat mudah juga perlu khawatir karena risiko mereka mengalami kanker rahim pun cukup tinggi. Ini dikarenakan peristiwa pajanan estrogen terjadi lebih lama bila membandingkannya dengan mereka yang datang bulan lebih lambat atau yang melalui masa menopause di umur yang seharusnya. Maka dari itu, penting untuk memeriksakan kondisi tubuh serta mengikuti perkembangan normal tidaknya hormon dalam tubuh agar terdeteksi awal apakah ada ketidakberesan di sana.

 

  1. Pemakaian Tamoksifen

Tamoksifen adalah sejenis obat yang memiliki kemampuan dalam menaikkan pemicu terjadinya kanker rahim untuk para pengonsumsinya. Tentu saja setiap obat yang kita konsumsi selalu memberikan efek samping, namun satu obat dan lainnya memberikan efek samping serta risiko yang berbeda. Bagi para wanita yang merasa mengonsumsi tamoksifen, kewaspadaan harus ditingkatkan karena kanker rahim dapat menyerang.

 

  1. Diabetes Tipe 2

Wanita dengan risiko diabetes tipe 2 memiliki potensi terjangkit kanker rahim lebih tinggi juga daripada para wanita tanpa risiko diabetes. Maka bila memang merasa mempunyai risiko tersebut, sebaiknya langsung coba pastikan dengan memeriksakan diri ke dokter karena kondisi rahim dalam hal ini termasuk terancam.

 

  1. Belum Pernah Mengalami Kehamilan

Kadar estrogen lebih rendah dari kadar progesteron di saat wanita sedang hamil dan itulah yang membuat pemicu terjadinya kanker rahim lebih tinggi menyerang wanita-wanita yang belum pernah mengalami proses kehamilan. Jadi tak ada salahnya rajin kontrol kesehatan selama belum hamil untuk mengecek kondisi rahim kita.

 

  1. Sindrom Ovarium Polisistik

Bagi para wanita yang mengidap sindrom jenis ini, atau yang juga kita kenal dengan istilah ovarium polisistik, pemicu terjadinya kanker rahim menjadi lebih tinggi. Mengapa demikian? Alasannya adalah karena wanita dengan sindrom ini bakal lebih tinggi pajanannya akan kadar estrogen yang artinya juga menaikkan potensi rahim diserang sel-sel kanker.

 

  1. Obesitas

Bahaya obesitas tak hanya sebatas pada penyakit kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, jenis-jenis penyakit jantung yang mematikan, asam urat, atau bahkan stroke. Obesitas pun mampu menaikkan potensi seorang wanita mengalami kanker rahim. Kelebihan berat badan adalah hal yang sebenarnya bisa diatasi dengan melakukan diet sehat dan seimbang secara benar, jadi tidak ada alasan bahwa kita tak mampu mengendalikan bobot tubuh.

Bahkan diketahui bahwa wanita dengan kelebihan berat tubuh malah memiliki kadar estrogen yang jauh lebih tinggi dan inilah faktor yang otomatis menaikkan pemicu terjadinya kanker rahim bahkan bisa lebih dari 2 kali. Sebabnya adalah karena hormon estrogen terproduksi lebih banyak oleh jaringan lemak yang menumpuk di dalam tubuh.

 

 

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?Kanker serviks atau kanker leher rahim pada umumnya disebabkan oleh human paillomavirus atau HPV. Virus ini dapat tertular lewat hubungan seksual, tetapi pengetahuan tepat mengenai virus ini masih simpang siur. Faktanya, dalam sebuah survei yang digelar Jo’S Cervical Cancer Trust, seperti dilansir dari Cosmopolitan, 51 persen partisipan perempuan tidak tahu pasti mengenai infeksi HPV yang berisiko kanker serviks.

Pada saat ini banyak sekali orang diluaran sana yang bertanya “apakah kanker rahim bisa menular ?” atau tidak ? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mereka lontarkan karena mungkin mereka takut akan terular kanker pada saat mengunjungi atau menjenguk teman, kerabat mereka yang terkena kanker rahim.

Selain mendapatkan jawaban dari pertanyaan “apakah kanker rahim bisa menular” atau tidak disini Anda juga bisa mendapatkan informasi lainnya seputar kanker rahim itu sendiri.

 

Lantas apakah kanker rahim bisa menular atau tidak ? Ini dia Jawabannya

Penyakit kanker rahim TIDAK MENULAR, akan tetapi virus HPV penyebab utama dari kanker rahim ini sangat menular. Perlu Anda ketahui virus HPV yang merupakan penyebab utama seseorang terkena kanker rahim ini bisa ditularkan melalui kontak seksual.

 

Akan tetapi menurut Dr. Andi Darma Putra, Sp. OG. (K) Onk, Staff Pengajar obstetri dan ginekologi di FKUI – Jakarta yang menyatakan bahwa :

Menularnya virus HPV bukan saja terjadi melalui kontak / hubungan seksual saja, melainkan dapat menular melalui hal apa saja yang memungkinkan adanya kontak langsung dengan kelamin yang terinfeksi. Pada saat virus menginfeksi, awalnya kondisi ini tidak memicu munculnya gejala, akan tetapi infeksi ini dapat berkembang menjadi kanker setelah 10-15 tahun kemudian (tanpa Anda sadari). Gejala yang muncul pada saat terjadi kanker pun diantaranya akan mengalami gejala seperti panggul terasa nyeri, kandung kemih mengalami masalah, kebocoran vagina, perdarahan pada saat melakukan aktifitas seksual hingga keputihan abnormal.

 

Pernyataan di atas berhubungan dengan yang di katakan oleh Stacy Wiegman, PharmD yaitu kanker serviks tidak menular, namun virus HPV (penyebab utama) dapat menular.

Stacy Wiegman sebagai penderita kanker serviks, mengatakan bahwa kanker serviks tidak menular. Tapi HPV, yang dianggap sebagai penyebab kebanyakan kasus kanker serviks dapat menular. Ada banyak jenis HPV, dan tidak semua dari mereka dapat menyebabkan kanker, kita tidak akan mengetahui HPV mana yang dapat menyebabkan kanker. Untuk mencegah HPV, selalu menggunakan kondom, namun hal tersebut tidak akan melindungi 100% karena kontak kulit-ke-kulit juga dapat menjadi media penyebarannya.

 

Penyampaian yang dikatakan oleh Honor Society of Nursing (STTI) dan Larry E. Puls, MD juga sama dengan Stacy Wiegman yaitu kanker serviks tidak menular, tapi virus HPV bisa menular ungkapnya.

Apakah kanker rahim bisa menular ? Kanker serviks tidak lah menular, tapi tubuh kita dapat tertular virus human papillomavirus (HPV), yang menjadi salah satu penyebab utama kanker serviks. Ada vaksin HPV, yang dapat membantu mencegah tertularnya HPV dan kanker serviks, meskipun vaksin tidak menyembuhkan kanker serviks. Menghindari kontak kulit dengan seseorang dengan infeksi HPV dan menjaga pasangan dapat menurunkan risiko terkena HPV.

 

 

KESIMPULAN :

Apakah kanker rahim bisa menular ? Kanker serviks tidak serta merta dapat menular secara langsung kepada orang lain. Akan tetapi virus HPV yang menjadi pemicu kanker tersebut dapat menular kepada orang lain. Penyebab kanker adalah HPV, baik pria maupun wanita dapat memiliki virus ini. Kanker serviks tidak menular tapi penyebabnya sangat berbahaya seperti HPV ini. Terjadi penularan HPV biasanya infeksi virus tersebut baru berkembang menjadi kanker setelah 10 sampai 15 tahun kemudian. Meskipun penularan kanker rahim ini tidak terjadi secara langsung melainkan butuh waktu hingga puluhan tahun untuk menjadi kanker.

Hal ini patut Anda perhatikan, karena bisa saja disaat kanker tumbuh dari virus HPV tersebut, kanker sudah mulai masuk ke stadium lanjut seperti stadium 3 dan stadium 4. Maka dari itu diharuskan bagi Anda untuk selalu rutin melakukan pengecekan dengan memeriksakan diri Anda ke dokter. Karena dengan cara itu, jika sudah mulai terlihat tanda-tanda kanker bisa langsung segera diatasi dengan melakukan pengobatan.

 

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Komplikasi Kanker Serviks

Komplikasi Kanker Serviks

Komplikasi Kanker Serviks

Umumnya kanker serviks ditemukan pada stadium lanjut, ketika penyakit sudah cukup parah. Pada stadium kanker ini, berbagai masalah kesehatan muncul pada penderita. Komplikasi kanker serviks mulai muncul dan memperberat kondisi pasien.

Komplikasi kanker serviks dapat terjadi sebagai efek samping dari pengobatan atau sebagai hasil dari kanker itu sendiri. Dalam artikel ini akan dibahas berbagai komplikasi yang mungkin muncul pada kanker serviks.

 

  1. Menopause Dini

Penderita kanker serviks yang menjalani operasi pengangkatan ovarium atau menjalani pengobatan radioterapi dapat memicu terjadinya menopause dini. Kebanyakan perempuan mengalami menopause di usia 50an. Namun komplikasi kanker serviks bisa lebih cepat dari itu. Menopause terjadi karena ovarium (indung telur) berhenti memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Pengobatan ini sering disebut sebagai terapi sulih hormon (Hormone Replacement Therapy (HRT)).

 

  1. Vagina Menyempit

Radioterapi (terapi dengan penyinaran) untuk kanker serviks dapat mengakibatkan vagina menjadi sempit sehingga menyebabkan nyeri atau sulit ketika berhubungan intim. Ada 2 penanganan utama yang dapat dipilih untuk kasus komplikasi kanker serviks ini. Penanganan pertama adalah mengoleskan krim hormonal pada vagina. Efeknya adalah peningkatan kelembaban dalam vagina sehingga memudahkan dalam hubungan intim.

Penanganan yang kedua adalah penggunaan vagina dilator. Vagina dilator adalah alat berbentuk tampon yang terbuat dari plastik. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina dan efeknya membuat vagina jadi lebih lemas atau lunak. Alat ini direkomendasikan dimasukkan sekitar 5-10 menit setiap hari selama 6-12 bulan.

 

  1. Limfedema

Pengangkatan nodus limfe (kelenjar getah bening) di pinggul kadang berakibat pada terganggunya sistem limfe (getah bening). Salah satu fungsi sistem limfe adalah untuk mengeluarkan cairan yang berlebih dari jaringan tubuh. Terganggunya fungsi ini dapat mengakibatkan penumpukan cairan di jaringan yang disebut juga lymphoedema. Akibatnya beberapa bagian tubuh membengkak, pada kasus kanker serviks biasanya terjadi pada kaki. Komplikasi kanker serviks ini bisa dikurangi dengan latihan dan massage. Bisa juga dengan menggunakan pakaian tertentu yang memberi tekanan pada bagian yang bengkak.

 

  1. Pengaruh Emosional

Pengaruh emosional pada penderita kanker serviks sangat umum terjadi. Banyak ditemukan komplikasi kanker serviks efek “rollercoaster”. Dinamakan rollercoaster karena emosi yang naik turun. Misalnya, penderita kanker serviks merasa sangat sedih ketika mengetahui penyakitnya, tapi perasaannya akan membaik ketika kanker telah diangkat. Penderita dapat merasakan sedih (down) kembali ketika mengetahui efek-efek yang akan dirasakan setelah pengobatan.

Gangguan emosional seperti ini bisa memicu depresi. Tanda-tanda depresi di antaranya adalah perasaan sedih, tidak ada harapan, putus asa, kehilangan ketertarikan atau minat pada hal-hal yang biasanya disukai.

 

  1. Gagal Ginjal

Ginjal manusia berfungsi menyaring “sampah” dari darah. Produk sisa ini akan dikeluarkan dari tubuh melalui urin melalui saluran bernama ureter. Pada beberapa kasus kanker serviks stadium lanjut, sel kanker dapat menekan ureter sehingga mengganggu aliran urin dari ginjal. Urin yang terganggu penyalurannya akan menumpuk dalam ginjal atau disebut juga dengan hidronefrosis. Hal ini bisa menyebabkan komplikasi kanker serviks yaitu ginjal membengkak dan membesar.

Penanganan gagal ginjal yang disebabkan oleh kanker serviks bisa dilakukan dengan pembuatan saluran untuk mengeluarkan urin yang menumpuk dari ginjal dengan selang yang dimasukkan melalui kulit ke masing-masing ginjal (nefrostomi perkutan). Selain itu bisa juga dengan melebarkan saluran ureter dengan memasukkan cincin logam (stent) di dalamnya.

 

  1. Penggumpalan Darah

Sebagaimana halnya dengan kanker-kanker lainnya, kanker serviks dapat menyebabkan darah menjadi lebih kental sehingga mudah terjadi penggumpalan. Tirah baring (bed rest) setelah operasi dan kemoterapi juga dapat meningkatkan risiko pembentukan gumpalan.

Tumor yang besar dapat menekan pembuluh darah vena di panggul sehingga menyebabkan lambatnya aliran darah. Hal ini menyebabkan penggumpalan darah di daerah kaki. Hal yang sangat diwaspadai dari terjadinya gumpalan darah ini adalah gumpalan ini dapat mengalir terbawa aliran darah ke paru-paru dan menyumbat aliran darah di sana. Komplikasi kanker serviks ini dikenal dengan embolisme paru. Efeknya fatal, bisa menyebabkan kematian.

 

  1. Fistula

Fistula adalah saluran yang tidak normal yang menghubungkan dua bagian pada tubuh. Pada kebanyakan kasus kanker serviks, fistula terbentuk di antara kandung kemih dan vagina. Kelainan ini menyebabkan adanya cairan urin yang keluar terus menerus dari vagina (berasal dari kandung kemih). Selain itu fistula juga dapat terbentuk antara vagina dan rektum.

Fistula merupakan komplikasi kanker serviks yang tidak umum. Kejadiannya 1:50 kasus kanker stadium lanjut. Penanganannya adalah dengan operasi. Meskipun kadang ini sulit dilakukan untuk penderita kanker serviks karena kondisinya yang rapuh sehingga tidak sanggup menghadapi efek operasi. Selain operasi, gejala fistula bisa diatasi dengan penggunaan obat untuk mengurangi cairan yang keluar serta penggunaan krim atau lotion untuk mengatasi kerusakan jaringan di sekitarnya dan mencegah iritasi.

 

  1. Cairan Berbau Dari Vagina

Komplikasi kanker serviks lain yang tidak umum terjadi tapi mengganggu adalah keluarnya cairan berbau tidak sedap dari vagina. Keluarnya cairan ini bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti kerusakan jaringan, kebocoran dari kandung kemih atau rektum melalui vagina, atau infeksi bakteri pada vagina.

Penanganannya adalah dengan memberikan gel antibakteri yang mengandung metronidazol dan menggunakan pakaian yang mengandung karbon (arang). Karbon atau arang efektif dalam menyerap bau yang tidak sedap.

 

 

Komplikasi Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fakta Mengenai Kanker Serviks

Fakta Mengenai Kanker Serviks

Fakta Mengenai Kanker Serviks

Kanker serviks atau kanker leher rahim pada umumnya disebabkan oleh human paillomavirus atau HPV. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Semua wanita dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks. Tapi, penyakit ini cenderung memengaruhi wanita yang aktif secara seksual. Virus ini dapat tertular lewat hubungan seksual, tetapi pengetahuan tepat mengenai virus ini masih simpang siur. Faktanya, dalam sebuah survei yang digelar Jo’S Cervical Cancer Trust, seperti dilansir dari Cosmopolitan, 51% partisipan perempuan tidak tahu pasti mengenai infeksi HPV yang berisiko kanker serviks. Oleh karenanya, ada beberapa mitos yang kemudian tidak sepenuhnya benar dan dipercaya. Berikut beberapa fakta mengenai kanker serviks yang benar di antaranya:

 

  1. Virus ini langka

Mitos yang beredar mengatakan bahwa virus ini langka. Justru sebaliknya fakta mengenai kanker serviks yang benar virus ini termasuk biasa, dan faktanya ada empat dari lima orang 80% yang terkena virus ini di sepanjang hidup mereka. Ini menandakan virus ini bukanlah langka.

 

  1. Sesuatu yang patut dicemaskan

Tidak juga, fakta mengenai kanker serviks yang benar ada sekitar lebih dari 100 virus HPV dan mestinya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, setidaknya ada 13 jenis yang berisiko dapat menyebabkan kanker. Ini ‘dapat’, bukan ‘akan’. Dalam beberapa kasus, ada jenis virus yang tidak berbahaya. Inilah pentingnya pap smear untuk mengetahui sel abnormal sebelum berkembang jadi kanker serviks.

 

  1. Akan tahu ketika sudah terkena virus

Mitos ini tidak benar. fakta mengenai kanker serviks yang benar HPV pada umumnya tak menunjukkan gejala atau sulit diketahui ketika seseorang telah terkena virus. Dengan mengikuti tes pap smear, infeksi HPV dan abnormal lainnya akan dapat diketahui dan diobati.

 

  1. Hanya yang kerap berganti pasangan yang kena HPV

Tidak juga. Fakta mengenai kanker serviks seseorang dapat terkena HPV saat pertama kali berhubungan seksual, karena HPV menular ketika kulit bersentuhan di bagian alat kelamin. Jadi, jika berganti-ganti pasangan kemungkinannya lebih besar, akan tetapi satu orang pasangan juga berisiko terkena virus.

 

  1. HPV adalah virusnya anak muda

Fakta mengenai kanker serviks berikutnya siapapun bisa terkena virus ini, terutama yang berhubungan seksual aktif. Memang lebih banyak kena anak muda, akan tetapi, sistem kekebalan tubuh biasanya dapat mengatasi infeksi ini. Penting mengetahui bahwa HPV dapat berada di tubuh dalam waktu yang lama, sehingga bisa terbawa virus dan tak mengetahui gejalanya. Oleh karenanya sangat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear.

 

  1. Tidak akan terkena virus kalau sehat

Sistem kekebalan tubuh bertangungjawab untuk memerangi infeksi HPV, sehingga seseorang yang sehat lebih efektif melawan HPV. Konsumsi makanan sehat, berolahraga, dan lebih penting lagi berhenti merokok akan sangat membantu. Namun fakta mengenai kanker serviks ini, HPV dapat mempengaruhi siapapun yang aktif berhubungan seksual, bahkan yang tergolong sehat sekalipun. Jadi tidak mengurangi kemungkinan terkena risiko.

 

  1. Jika gunakan kondom tidak terkena HPV

Sayangnya ini tidak sepenuhnya benar. Fakta mengenai kanker serviks ini dengan menggunakan kondom hanya akan mengurangi risiko terkena virus, akan tetapi HPV dapat hidup di kulit sekitar area genital, yang tidak terlindungi kondom. HPV dapat menular melalui kontak seksual termasuk sentuhan, atau sentuhan alat kelamin dengan alat kelamin, oral, atau seks anal.

 

  1. Tak ada hubungan antara merokok dan infeksi HPV

Merokok justru adalah faktor utama penyebab kanker serviks. Jika seseorang merokok, sistem kekebalan tubuh di sekitar sel serviks akan lemah, membuatnya sulit mencegah tubuh kena infeksi HPV.

 

  1. Vaksin akan membuat diri terhindar dari HPV

Vaksin HPV membuat tubuh terlindungi hingga 70% dari penyebab kanker, tetapi tidak sepenuhnya. Oleh karenanya pap smear penting meskipun sudah atau belum divaksin untuk mengetahui ada sel abnormal.

 

  1. Jika terkena HPV berarti akan terkena kanker

Benar adanya jika 99,7% kanker serviks disebabkan oleh HPV, akan tetapi belum tentu orang dengan HPV akan terkena kanker. Pada banyak kasus, orang yang terkena HPV justru dapat hidup tanpa masalah. Untuk pastinya, seseorang mesti memeriksakan diri pada dokter untuk mengetahui apakah terkena kanker serviks atau tidak.

 

 

Fakta Mengenai Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Diagnosis Kanker Serviks

Diagnosis Kanker Serviks

Diagnosis Kanker Serviks

Tumor ganas yang seringkali dijumpai pada wanita salah satunya adalah kanker serviks. Jenis kanker yang mengancam kesehatan bahkan hingga nyawa wanita sangat sulit dideteksi dini sehingga ditemukan pada penderita ketika mengalami stadium lanjut.

Kanker serviks seringkali dihubungkan dengan faktor lingkungan, yaitu gaya hidup wanita yang tidak sehat meskipun demikian penyebab utamanya adalah virus, HPV. Penularan dari virus HPV dapat melalui hubungan intim yang berganti-ganti pasangan.

 

Sulit Mendeteksi Gejala Kanker Serviks

Kanker serviks adalah penyakit yang berhubungan dengan leher serviks pada wanita. Kondisi dimana wanita terinfeksi HPV, meskipun pada sebagian infeksi HPV dapat sembuh dengan sendirinya karena kekebalan tubuh yang dapat menyerang virus tersebut. Sedangkan pada infeksi lainnya, HPV yang bertahan di dalam tubuh akan berkembang menjadi sel kanker.

Perkembangan sel kanker pada leher rahim membutuhkan waktu yang panjang. Inilah mengapa sel kanker baru ditemukan pada wanita yang berusia 35-50 tahun. Bahkan penderita ketika terinfeksi virus tidak menemukan gangguan kesehatan yang spesifik itulah yang menyebabkan sulit untuk dideteksi dini.

Sulitnya mendeteksi gejala kanker serviks pada tahapan dini yang menyebabkan kanker serviks dikatakan sebagai the silent killer. Beberapa gejala pada stadium lanjut dapat diketahui dengan perubahan kondisi pada wanita.

 

Diagnosis Kanker Serviks

Wanita dalam melakukan pemeriksaan untuk mengetahui sel kanker di dalam tubuhnya apalagi yang berhubungan dengan sel kanker rahim. Meskipun demikian bagi wanita tanpa gejala sekalipun pemeriksaan dapat dilakukan karena pencegahan dini dapat membantu untuk mengurangi penyebaran sel kanker pada leher serviks. Pemeriksaan kanker serviks dapat membantu pengobatan lanjutan pada wanita yang mengalami kanker serviks. Beberapa metode diagnosis kanker serviks dapat dilakukan. Berikut ini adalah beberapa metode umum untuk mendiagnosis kanker serviks :

 

  1. Yodium

Diagnosis kanker serviks ini dikenal dengan vagina epitel skuamosa untuk mengetahui kondisi normal akan glikogen yang dapat menjadi berwarna cokelat ketika diberi yodium. Sedangkan serviks epitel kolumnar, epitel skuamosa abnormal dan erosi serviks tidak ada glikogen maka tidak ada warna.

Adapun dalam klinis serviks yang terpapar oleh spekulum area kewanitaan setelah lendir permukaan maka dioleskan larutan yodium bahkan ke bagian serviks dan forniks. Sehingga apabila ditemukan yodium negatif abnormal maka dapat dilakukan biopsi dan diagnosis kanker serviks yang berhubungan dengan patologis daerah kewanitaan.

 

  1. Blade Cervix cytologic examination (Serviks Pap)

Pemeriksaan selanjutnya yang dapat membantu untuk mendetiksi kanker serviks adalah dengan menggunakan metode Blade Cervix cytologic examination (Serviks Pap) meskipun demikian pemeriksaan awal ini dapat dilakukan dengan cara kombinasi untuk mengetahui akurasi hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh wanita yang memiliki gejala kanker serviks.

Metode utama dalam mendeteksi kanker serviks stadium awal, Meskipun demikian harus sangat teliti dalam mengambil simpel. Bahkan ketika pemeriksaan mikroskopis sehingga tingkat akurasi dapat lebih menjelaskan kondisi penderita. Diagnosis kanker serviks ini harus dilakukan dengan kombinasi klinis dan melakukan pemeriksaan berkala sebagai metode screening.

 

  1. Biopsi serviks dan Kanalis Servikalis

Metode diagnosis kanker serviks adalah dengan menggunakan biopsi serviks dan kanalis servikalis yang lebih dari kelas III hingga IV akan tetapi apabila biopsi serviks ditemukan negatif maka persimpangan kolom skuamosa serviks pada titik 3,6,9 dan 12 dimana diambil empat poin biopsi atau apabila ketika melakukan test yodium tidak ada warna dan kanker berpotensi. Sehingga pemeriksaan patologis dapat membantu dalam mendeteksi kanker serviks.

 

  1. Kolposkopi

Metode diagnosis kanker serviks kolposkopi dapat membantu memilih lokasi biopsi sehingga dapat dilakukan serviks biopsi. Meskipun kolposkopi tidak dapat langsung dapat mendiagnosis tumor karsinoid. Kolposkopi bukan pengganti pap smear dan juga biopsi sehingga tidak menemukan lesi pada kanal serviks. Sedangkan menurut penelitian bahwa biopsi dengan menggunakan kolposki memiliki akurasi mencapai 98%.

 

 

Diagnosis kanker serviks dapat dilakukan pada wanita untuk melakukan pencegahan kanker serviks, sehingga apabila ditemukan adanya infeksi HPV pada stadium dini akan mambantu untuk mengurangi risiko perkembangan sel kanker. Selain itu pencegahan sangat penting dilakukan, virus yang dapat menginfeksi HPV dapat ditularkan melalui hubungan intim yang berganti-ganti pasangan, gaya hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi alkohol dan perokok selain itu faktor genetic dapat menyebabkan kanker serviks meskipun tidak begitu besar pengaruhnya.

 

 

Diagnosis Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pemeriksaan Kanker Serviks

Pemeriksaan Kanker Serviks

Pemeriksaan Kanker Serviks

Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi di bagian leher rahim wanita, atau daerah di antara vagina dan kantong rahim. Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa kasus kanker serviks merupakan keganasan tertinggi kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus), yang memiliki lebih dari 100 strain virus. Virus HPV yang menjadi penyebab terbanyak kanker serviks adalah virus HPV strain 16 dan 18. Saat ini salah satu pencegahan kanker serviks adalah dengan menggunakan vaksin HPV.

Kapankah waktu yang tepat untuk pap smear? Kemudian berapa kali dalam suatu waktu idealnya melakukan pemeriksaan kanker serviks? Banyak wanita tidak menyadari bahaya kanker serviks sehingga cenderung cuek dan tidak terlalu peduli untuk melakukan deteksi dini. Padahal, pemeriksaan rutin dan dini pada daerah serviks wanita merupakan kunci untuk mencegah kematian karena kanker serviks.

Hal ini berkaitan dengan sifat penyakit yang tidak memberikan gejala pada stadium awal. Lebih dini ditemukan maka kanker serviks dapat lebih cepat ditangani dan harapan hidup meningkat lebih besar ketimbang jika kanker serviks baru diketahui pada stadium lebih lanjut.

 

Tes Deteksi Dini Kanker Serviks

Pemeriksaan kanker serviks perlu dilakukan walaupun wanita tersebut merasa sehat. Beberapa tes untuk mendeteksi kanker serviks:

 

  1. Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Tes IVA merupakan salah satu pemeriksaan kanker serviks yang sangat mudah dilakukan. Pemeriksaan dilakukan dengan pemulasan asam asetat 3-5% pada daerah leher serviks. Hasilnya dapat langsung disimpulkan dan hanya berlangsung selama 5 menit. Tes IVA sebaiknya rutin dilakukan satu tahun sekali setelah menikah. Tes IVA cukup murah jika dibanding sejumlah tes lain untuk deteksi kanker. Tes IVA dapat dilakukan di puskesmas dengan biaya maksimal Rp 25.000.

 

  1. Tes Pap (Pap Smear)

Untuk memeriksa kanker serviks, dokter menggunakan alat bernama spekulum yang dimasukkan ke dalam mulut vagina. Alat ini bisa memperluas lapang pandang dengan membuka mulut vagina sehingga area serviks dan vagina bisa diperiksa lebih teliti. Setelah itu, sampel sel-sel pada serviks akan diambil memakai spatula (seperti sendok kecil bertangkai panjang) plastik dan sikat kecil. Sel-sel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk diuji. Tes Pap memberikan hasil yang lebih akurat daripada tes IVA, namun prosedur pemeriksaan juga lebih rumit. Pada pemeriksaan kanker serviks ini dilakukan pengambilan sel-sel serviks lewat usapan pada daerah serviks. Hasil usapan yang berisi sel-sel serviks ini nantinya akan diperiksa di bawah mikroskop dan disimpulkan dalam waktu 1-2 minggu.

 

  1. Tes LBC (Liquid Based Cytology)/(Pemeriksaan sel berbasis cairan)

Jika pada tes Pap, sel-sel diambil dari usapan dan langsung dioles pada kaca objek, maka pada tes LBC, hasil usapan dimasukkan ke dalam botol berisi cairan khusus sehingga tidak ada sel yang terbuang. Sel-sel kemudian akan diperiksa di bawah mikroskop. Pemeriksaan kanker serviks ini memberikan keakuratan lebih daripada Tes Pap.

 

  1. Tes HPV

Tes HPV dapat dilakukan bersamaan dengan tes Pap atau Tes LBC. Pemeriksaan kanker serviks ini berguna untuk mencari adanya virus HPV pada daerah serviks yang dapat menandakan adanya infeksi HPV dan dapat berpotensi menyebabkan kanker serviks.

 

Pemeriksaan kanker serviks ini sebaiknya dilakukan 3 tahun setelah hubungan seksual yang pertama kali atau ketika sudah berusia 21 tahun dan sudah aktif secara seksual. Setelah itu pemeriksaan rutin perlu dilakukan berdasarkan usia dan hasil pemeriksaan pertama kali. Jika hasilnya normal, pemeriksaan dapat dilakukan setiap 3 tahun sekali, namun jika terdapat masalah maka pemeriksaan mungkin dapat dilakukan lebih sering.

 

Terutama jika memiliki gaya hidup yang berisiko tinggi mencetuskan kanker, diantaranya seperti:

  • Bergonta-ganti pasangan hubungan seksual
  • Intensitas hubungan seks tinggi (sering melakukan hubungan seks)
  • Merokok
  • Pola makan tidak sehat, dan lainnya

 

Pemeriksaan kanker serviks yang rutin ditujukan untuk mendeteksi adanya lesi (perlukaan) prakanker. Bila deteksi dini lesi prakanker dapat dilakukan, maka perubahan lesi prakanker menjadi kanker dapat dicegah dengan tindakan medis seperti bedah krio (cryosurgery), diatermi, dan terapi laser. Tindakan medis pada tahap ini dapat mencegah terjadinya kanker serviks dengan keberhasilan mendekati 100%.

 

 

Pemeriksaan Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Faktor Penyebab Kanker Serviks

Faktor Penyebab Kanker Serviks

Faktor Penyebab Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Semua wanita dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks. Tapi, penyakit ini cenderung memengaruhi wanita yang aktif secara seksual.

Kanker serviks dimulai ketika sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik atau perubahan pada DNA. Mutasi genetik ini kemudian mengubah sel normal menjadi sel abnormal. Sel yang sehat akan tumbuh dan berkembang biak pada kecepatan tertentu, sedangkan sel kanker tumbuh dan berkembang biak tanpa terkendali. Berikut di bawah ini ada beberapa faktor penyebab kanker serviks yang harus Anda ketahui agar bisa mencegahnya sebelum tekena risiko, antara lain:

 

 

  1. Human Papillomavirus (HPV)

Faktor penyebab kanker serviks yang utama adalah infeksi dari virus HPV. HPV merupakan virus yang menjadi faktor penyebab kanker serviks utama yang mematikan di dunia, tercatat lebih dari 99 % kasus kanker serviks terjadi setelah terinfeksi virus HPV. HPV sebenarnya adalah kumpulan dari berbagai virus, bukan virus tunggal setidaknya jenisnya terdiri dari lebih 100 jenis virus.

Jika di tarik lagi, faktor penyebab kanker serviks yang paling umum terjadi adalah virus HPV 16 dan HPV 18, setidaknya ditemukan di 2/3 kasus kanker serviks. Virus HPV tipe lainnya mungkin dapat menyebabkan infeksi pada kulit kelamin seperti tumbuhnya kutil, namun ini tidak berbahaya bagi manusia.

 

  1. Banyaknya pasangan seks

Faktor penyebab kanker serviks kedua adalah banyaknya pasangan yang memungkinkan Anda terinfeksi risiko tertular HPV. Punya banyak pasangan seks akan menjadi salah satu penyebab utama terkena kanker serviks, infeksi virus HPV akan semakin tinggi menyasar diri Anda. Setia pada pasangan dan mendekatkan diri dengan agama dan Tuhan sedikit banyak akan membantu Anda mengurangi risiko tersebut.

 

  1. Kebiasaan merokok

Faktor Penyebab Kanker ServiksWanita perokok dua kali lipat lebih rentan terkena kanker serviks dibandingkan dengan non perokok, zat yang terdapat pada rokok merupakan pemicu utama kanker, terutama kanker paru paru. Apa kaitan merokok dengan kanker serviks? Riset telah menunjukkan bahwa zat tembakau terdapat pada lendir leher rahim perempuan yang merokok (perokok aktif). Periset juga percaya bahwa zat ini dapat membantu meningkatkan kerusakan sel DNA yang terdapat dalam leher rahim wanita sehingga dapat menyebabkan faktor penyebab kanker serviks tinggi.

 

  1. Hubungan seksual usia dini

Ada yang bilang bahwa faktor penyebab kanker serviks adalah menikah usia dini, pemahaman tersebut mungkin harus lebih dispesifikasikan menjadi hubungan seksual usia dini. Jika Anda pernah melakukan hubungan seksual pada usia yang masih muda (di bawah 17 tahun) dimana sel belum bertumbuh dengan sempurna, maka Anda memiliki resiko 2x lebih besar terserang kanker serviks.

 

  1. Penggunaan pil KB

Penggunaan jangka panjang pil KB akan berdampak pada kesehatan Anda, dari berbagai riset menunjukkan bahwa konsumsi pil KB lebih dari 5 tahun dapat menyebabkan resiko tinggi terkena kanker serviks. Dari riset yang dilakukan, risiko akan turun sendirinya setelah konsumsi pil KB dihentikan.

Untuk menekan risiko ini, pastikan bahwa Anda berkonsultasi dengan dokter kandungan agar menjelaskan pil yang tidak berbahaya bagi rahim Anda. Penggunaan pil KB dalam jangka panjang akan berdampak pada beberapa faktor seperti kesehatan tubuh terutama pada leher rahim. Sebaiknya dicari alternatif yang lebih baik selain penggunaan pil KB agar terhindar jangka panjang dari kanker serviks.

 

  1. Riwayat keluarga

Riwayat keluarga juga menentukan tingginya faktor penyebab kanker serviks, ibu, dan saudara perempuan termasuk dalam kategori tersebut. Setidaknya risiko meningkat 2x lipat di bandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga. Mengapa bisa ? hal ini dikarenakan biasanya dalam riwayat keluarga terdapat sistem imun yang sama, daya tahan tubuh serta faktor terinfeksi yang sama.

Walaupun banyak jenis kanker yang tidak berkorelasi langsung dengan kanker, namun ada beberapa yang sangat berhubungan. Hal yang mempengaruhi adalah sistem imun tubuh dan sel yang di bawa oleh faktor keturunan tersebut.

 

  1. Kemiskinan & pengetahuan mengenai kanker serviks

Mengapa kemiskinan menjadi salah satu faktor penyebab kanker serviks? setidaknya penelitian yang dilakukan di Inggris menyebutkan bahwa 1% dari berbagai kasus kanker ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam melakukan tes pap smear, yang menyebabkan lambat ditangani sehingga telah berdampak serius. Selain itu pengetahuan mengenai prosedur pencegahan kanker serviks serta cara deteksi dini mengenai seluk beluknya menjadi penyebab tersendiri banyaknya kematian akibat baru diketahui setelah mencapai stadium lanjut.

 

 

Faktor penyebab kanker serviks yang paling utama adalah infeksi HPV,jadi anda harus mengupayakan menghindari virus ini sebisa mungkin. Untuk menghindari terlampat penanganan, ada baiknya anda melakukan tes pap smear secara rutin untuk mengetahui sel di leher rahim Anda.

 

 

Faktor Penyebab Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pengobatan Kanker Serviks

Pengobatan Kanker Serviks

Pengobatan Kanker Serviks

Menjadi momok bagi para makhluk yang dinamakan perempuan, kanker serviks adalah jenis kanker selain kanker payudara karena kanker yang cukup mengancam dengan timbul di bagian leher rahim ini dapat terjadi justru pada wanita yang berada di usia 30-45 tahun. Pada usia tersebut, wanita masih terbilang aktif secara seksual, maka sangat bahaya apabila wanita sampai mengidap penyakit ini. Leher rahim itu sendiri memiliki fungsi sebagai pintu masuk dari vagina menuju rahim dan meski kanker ini bisa saja dialami oleh wanita yang usianya di bawah 25 tahun, tetap saja usia tersebut tak begitu berisiko dibandingan wanita usia antara 30-45.

 

Tentu saat bicara tentang bagaimana pengobatan kanker serviks, hal ini ditentukan oleh sejumlah faktor, yaitu:

  • Faktor umur pasien
  • Stadium kanker atau sudah seberapa parah perkembangan dan penyebaran kanker
  • Kondisi medis lain yang penderita hadapi
  • Adanya harapan untuk mempunyai anak

 

Ini bukanlah hal mudah untuk menentukan pengobatan kanker serviks seperti apa yang bakal paling baik dan efektif, namun hal ini selalu bisa dikonsultasikan dengan para ahli tim medis yang menangani kita. Berikut di bawah ini kita akan membahas satu per satu rekomendasi pengobatan kanker serviks. Selalu ada cara untuk pulih dan langkah pengobatan kanker serviks yang terdeteksi lewat metode diagnosa yang ditempuh, antara lain:

 

  1. Operasi Pengangkatan

Pengobatan kanker serviks yang pertama kali dokter bakal tawarkan adalah operasi pengangkatan rahim beserta kandungan. Prosedur ini yang kita kenal dengan istilah histerektomi di mana pengangkatan rahim ini akan dilanjutkan dengan membersihkan bilaterial kelenjar di bagian panggul.

Histerektomi adalah pengobatan kanker serviks yang cukup sering menjadi pilihan karena memang lesi kanker dapat dibersihkan dengan efektif dan untuk hasil lebih cepat penanganan medis ini boleh dipilih. Hanya saja, ada efek yang perlu menjadi pertimbangan para pasien juga, yaitu seperti mengalami gangguan ketika sedang melakukan buang air kecil setelah proses ini. Maka sebaiknya memang segala sesuatu ditanyakan lebih dulu kepada dokter, khususnya tentang akibat dari prosedur pengobatan ini bagi kesehatan di kemudian hari.

 

  1. Pelvic Exenteration

Ini juga merupakan sebuah metode pengobatan kanker serviks yang biasanya dikenal dengan sebuah operasi besar dan dokter hanya akan menyarankan prosedur ini apabila kanker serviks yang sudah diangkat sebelumnya muncul kembali. Jenis operasi ini pada umumnya akan dokter lakukan kalau kanker muncul lagi di area panggul dan belum terjadi penyebaran ke daerah lainnya. Sesudah operasi, ada rekonstruksi ulang yang akan dilakukan pada bagian vagina menggunakan jaringan dan kulit yang dokter ambil dari bagian tubuh lain pasien. Bagi para wanita yang sudah menikah, hubungan intim dengan suami masih bisa dilakukan, tapi tentunya beberapa bulan sesudah menjalani operasi.

 

  1. Radiopartikel

Pengobatan kanker serviks yang juga dapat menjadi pilihan adalah radiopartikel di mana dengan teknologi yang disediakan, perkembangan sel kanker akan dihambat. Sel kanker yang tak dapat bertumbuh secara leluasa otomatis tak akan mengganggu pasien ketika sedang beraktivitas setiap harinya. Pada prosedur ini, biji partikel dengan luas 1,7 cm akan digunakan dan dari biji inilah akan terpancar sinar gamma yang hanya akan mengancurkan sel kanker. Sel-sel sehat lainnya di dalam tubuh tak akan terkena dampak apapun, jadi tak perlu khawatir. Justru melalui pengobatan inilah diharapkan bahwa kegagalan dapat diminimalisir.

 

  1. Radioterapi Kanker Serviks

Radioterapi merupakan cara pengobatan kanker serviks yang sering menjadi pilihan para penderita. Kanker serviks baik stadium awal maupun stadium akhir dapat diobati dengan prosedur pengobatan satu ini dan dengan radiasi pengion yang diberikan oleh dokter akan membunuh segala sel kanker dengan dosis yang disesuaikan pada volume tumor. Sel-sel kanker yang sedang berkembang akan menjadi rusak, bahkan pembelahan selnya pasti digagalkan oleh radioterapi sehingga tak akan menyebar dengan cepat ke bagian yang lain.

Biasanya, dokter akan memberikan radiasi setelah menyesuaikan dengan stadium tumor, tipe tumor tersebut, luas serta ukurannya juga. Walau tergolong pengobatan medis terbaik, tetap saja ada efek samping yang wajib untuk diwaspadai, seperti misalnya adanya bagian rambut dan kulit yang berubah. Bahkan infeksi kandung kemih juga menjadi bagian dari efek samping oleh pengobatan radioterapi.

 

  1. Kemoterapi Kanker

Kemoterapi pun merupakan sebuah metode pengobatan kanker serviks yang juga digunakan untuk pengobatan kanker lainnya. Kemoterapi bahkan kerap dikombinasikan dengan radioterapi demi efektivitas lebih tinggi dalam menyembuhkan kanker serviks. Khusus bagi yang sudah mengalami kanker serviks stadium 4 atau akhir, kemoterapi adalah pengobatan yang perlu ditempuh supaya penyebaran kanker dapat ditahan dan diperlambat serta agar gejala yang timbul dapat dikurangi. Inilah yang kita bisa sebut dengan istilah kemoterapi paliatif.

 

 

Demikianlah rekomendasi pengobatan kanker serviks baik secara medis maupun alami atau tradisional yang dapat ditentukan oleh penderita. Khusus untuk mengobati kanker serviks pada penderita yang tengah hamil, usia kehamilan dan stadium kanker akan menentukan pengobatan terbaik. Biasanya, pengobatan akan diberikan setelah melahirkan karena bila melakukan pengobatan semasa hamil malah justru akan memicu kelahiran bayi prematur atau malah mengakibatkan keguguran.

 

 

Pengobatan Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment