Kanker Ovarium

Kanker Ovarium

Kanker Ovarium menjadi kanker kedelapan yang paling umum terjadi pada wanita, sekaligus menduduki peringkat kelima sebagai penyebab kematian wanita akibat kanker.

Kanker Ovarium merupakan ‘silent killer’, yang berarti gejalanya seringkali tidak muncul pada stadium awal perkembangannya. Gejala ini seringkali baru ditemukan pada stadium selanjutnya dimana pada saat itu kanker ovarium sudah sulit disembuhkan. Seandainya pun disertai dengan gejala awal, seperti masalah kencing, sakit perut atau kembung, gejala-gejala ini juga seringkali disangka sebagai gejala penyakit lain dan diabaikan.

Kanker Ovarium

Gejala Kanker Ovarium

Gejala Kanker Ovarium yang paling umum adalah buncit atau kembung di perut, perasaan tertekan atau nyeri di daerah panggul, sakit perut, gangguan makan atau perasaan penuh pada perut, dan gejala kencing seperti sering buang air kecil atau kandung kemih yang selalu terasa berisi.

Gejala lainnya dari Kanker Ovarium, antara lain sembelit, nyeri saat berhubungan badan, perubahan siklus menstruasi atau perdarahan diantara 2 periode menstruasi, sakit punggung, dan lemah.

Namun bagaimanapun juga, gejala-gejala ini terbilang masih umum, dan kadangkala disebabkan karena gangguan kesehatan lain yang tidak berbahaya ketimbang Kanker Ovarium, sehingga banyak yang mengabaikannya.

Jika pada saat ini Anda mengalami gejala-gejala seperti diatas, ada beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan:

  • Jika sering sembelit namun dalam waktu yang singkat, dan sembelit Anda sembuh sendiri atau sembuh dengan obat, maka mungkin itu bukan kanker. Kemungkinan kanker ovarium adalah jika sembelit terjadi lebih lama dari biasanya dan tidak sembuh setelah meminum obat-obat biasa.
  • Jika merasa kembung/buncit setiap kali setelah makan makanan tertentu dan kemudian hilang, besar kemungkinan ini tidak terkait dengan kanker.
  • Jika sembelit, sakit perut atau panggul sudah berlangsung lebih dari seminggu, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

 

Tipe Kanker Ovarium

Teridentifikasi lebih dari 30 tipe dan subtipe Kanker Ovarium pada wanita. Tapi sebagian besar para ahli mengelompokkannya dalam satu dari 3 kategori:

  • Tumor epitel. Berasal dari sel-sel epitel atau permukaan yang melapisi ovarium. Tipe ini yang paling umum, sekitar 90% dari seluruh kanker.
  • Tumor sel germinal. Berasal dari sel-sel ovarium yang akhirnya menjadi telur. Biasanya terjadi pada remaja dan dewasa muda. Tumor yang sering dapat disembuhkan ini mengisi sekitar 3% dari seluruh kasus kanker ini di negara-negara berkembang.
  • Sex cord-stromal tumors. Mengisi sekitar 5% dari seluruh kanker ini. Berasal dari sel-sel yang berubah menjadi jaringan ikat di dalam ovarium.

 

Penyebab Kanker Ovarium

Penyebab pasti Kanker Ovarium belum diketahui. Para ahli menganalisa beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena kamker ini, meski para ahli ini sendiri belum menemukan alasan faktor-faktor risiko tersebut bisa meningkatkan risiko kanker ovarium. Faktor-faktor risiko tersebut adalah:

 

Berusia lebih dari 50 tahun. Wanita yang berusia lebih dari 50 tahun lebih berisiko dari wanita usia di bawahnya. Sebagian besar kanker ovarium berkembang setelah menopause. Para ahli berspekulasi bahwa perubahan tingkat hormonlah yang menjadi pemicunya, ditambah para wanita yang sudah tua telah mengalami siklus ovulasi yang banyak sepanjang hidup mereka. Memang kasus wanita dibawah usia 40 tahun yang terkena kanker ovarium cukup jarang, tapi ingatlah bahwa kanker ini tidak mengenal batasan usia.

Obesitas atau kelebihan berat badan. Wanita yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 30 atau lebih, maka lebih berisko. Ada sebuah teori, bahwa sel lemak mengandung estrogen lebih banyak dari sel-sel lain, meskipun belum diketahui bagaimana peningkatan estrogen ini memainkan peran dalam hal ini.

Belum pernah hamil, atau hamil pertama pada saat berusia lanjut. Wanita yang belum pernah melahirkan memiliki risiko yang lebih tinggi dari yang pernah melahirkan. Dan risiko akan semakin turun setiap kali hamil.

Tidak menyusui. Wanita yang tidak menyusui lebih berisiko daripada wanita yang menyusui.

Penggunaan obat kesuburan. Menggunakan obat kesuburan Clomid dalam kurun waktu lebih dari satu tahun akan meningkatkan risiko kanker.

Terapi penggantian hormon estrogen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menjalani terapi penggantian estrogen pasca menopause mengalami peningkatan risiko kanker ovarium, terutama jika menggunakan estrogen tunggal (tanpa progesteron) selama 5 tahun atau lebih.

Genetik. Ada keluarga yang pernah terkena kanker , payudara atau kanker usus besar akan meningkatkan risiko kanker. Penelitian menyebutkan bahwa 10% dari kanker ovarium memiliki kecenderungan warisan dari keluarga. Risiko akan semakin meningkat jika semakin banyak keluarga yang terkena kanker.

Mutasi gen. Ada keluarga yang terkena kanker dari mutasi (perubahan) gen, misalnya BRCA1 dan BRCA2, juga akan meningkatkan risiko kanker ovarium dan kanker payudara. Mutasi gen yang meningkatkan risiko kanker usus besar, juga dapat meningkatkan risiko kanker.

Kanker payudara. Jika Anda menderita kanker payudara, maka kemungkinan untuk terkena kanker lebih besar.

Diet tinggi daging. Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang diet rendah lemak atau diet tinggi sayuran memiliki risiko kanker yang lebih rendah dibandingkan mereka yang diet tinggi lemak (khususnya lemak hewan) dan rendah sayuran.

Kebiasaan merokok dan alkohol. Kedua kebiasaan ini akan meningkatkan risiko tumor ovarium epitel. Mengungkapkan faktor risiko kanker tidaklah semudah penyakit jantung atau kanker payudara, karena penyakit ini belum lama diteliti secara intensif.

 

Kanker Ovarium

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*