Pengaruh Rokok Terhadap Kanker Serviks

Pengaruh Rokok Terhadap Kanker Serviks

 

Pengaruh Rokok Terhadap Kanker ServiksSaat ini merokok hampir telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian besar orang, baik itu pria maupun wanita. Tidak jarang ditemui seorang wanita merokok ketika sedang berada di cafe maupun tempat umum lainnya. Rokok sudah dikenal kaya akan kandungan zat berbahaya yang dapat menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit kronis, seperti kanker hati, kanker paru-paru, kanker serviks, kanker payudara, dan dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan janin. Oleh karena itu, wanita hamil dan menyusui dilarang untuk merokok.

 

Dalam merokok, terbagi menjadi 2 buah kategori, yaitu perokok pasif dan perokok aktif. Perokok pasif adalah orang sekitar yang berada di sekitaran orang yang merokok dan mau tidak mau menjadi korban asap rokok, dan menghirup asap rokok tersebut. Sedangkan perokok aktif adalah perokok yang secara aktif menghisap nikotin dari sebatang hingga beberapa batang rokok. Banyak orang yang telah mengetahui bahwa rokok merupakan zat berbahaya. Namun demikian banyak juga orang yang sangat menggemari merokok meskipun tahu bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan dirinya. Berikut ini merupakan macam-macam kandungan berbahaya yang terdapat di dalam rokok, yaitu:

 

  1. Nikotin

Nikotin merupakan zat utama yang paling terkanl di dalam rokok. Nikotin sering disebut-sebut karena efeknya yang berbahaya dapat menyebabkan penyakit kanker.

 

  1. Tar

Tar merupakan bagian rokok yang memberikan rasa. Namun dikarenakan pembakaran membuat perubahan senyawa di dalam tar menjadi lebih berbahaya dan menyebabkan penyakit impotensi, bronkitis, kanker, dan penyakit lainnya.

 

  1. Arsenik

Arsenik merupakan senyawa yang menyerupai logam. Arsenik ini dapat memberikan dampak kepada tubuh membuat sel-sel sulit melakukan regenerasi. Penyebaran di dalam tubuh dilakukan melalui darah.

 

  1. Benzene

Benzene merupakan kandungan dalam rokok yang dapat menyebabkan penyakit kanker darah.

 

  1. Amonia

Melihat dari namanya, amonia merupakan bahan yang baisa digunakan untuk pupuk. Namun akan berbeda manfaatnya ketika dicampurkan dengan rokok, akan menyebabkan seseorang yang menghisap rokok menjadi ketagihan.

 

  1. Karbon monksida

Karbon monoksida memiliki senyawa CO. Hasil pembakaran sebatang rokok dapat menghasilkan zat beracun yang dapat menyebabkan kanker paru-paru dan juga jantung koroner. Selain itu karbon monoksida yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi darah untuk mengikat oksigen dan mendistribusikan ke seluruh tubuh.

 

 

Dan masih banyak kandungan zat berbahaya lainnya yang dimiliki oleh sebatang rokok. Jika Anda tetap merokok meskipun telah mengetahui kerugian dari merokok, maka Anda harus berkomitmen untuk secara sewaktu-waktu mengalami masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan setiap hisapan pada sebatang rokok akan ada ratusan sel hidup yang mengalami kerusakan, sehingga lama kelamaan tubuh akan mengalami penurunan kesehatan.

Berbagai penelitian terkait dengan pengaruh rokok terhadap kanker serviks. Rata-rata banyak wanita yang terinfeksi dikarenakan asap dari perokok aktif yang ada di sekitarnya. Pada saat itulah jika Anda bukan merupakan seorang perokok pasif, Anda dapat menggunakan smoking area agar bebas merokok. Pastikan meskipun Anda seorang perokok aktif, jangan ganggu kebebasan orang yang tidak merokok hanya karena asap yang Anda timbulkan.

 

Proses terjadinya Pengaruh Rokok Terhadap Kanker Serviks

Pengaruh rokok terhadap kanker serviks ketika merokok, setiap hisapan akan banyak sel dan jaringan dalam yang terbakar sehingga mengalami kerusakan. Pemakaian dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada jaringan tertentu. Sel tubuh memiliki sifat yang rentan rusak saat dihadapkan dengan benda asing. Berbeda dengan virus yang bisa menjadi inang. Saat sel-sel pada leher rahim mulai mengalami pengikisan sel, dan tubuh mulai memperlihatkan gejala kanker serviks, maka langkah tepat yang harus dilakukan adalah melakukan pemeriksaan kepada dokter dengan segera.

 

Berikut ini pengaruh rokok terhadap kanker serviks:

  1. Banyaknya kandungan berbahaya dalam rokok

Rokok memiliki kandungan seperti nikotin, tar, arsenik, dan lain sebagainya, yang mana jika terjadi pembakaran rokok, maka gas setiap udara yang terhirup dapat merusak sel sehat di dalam tubuh. Akibatnya adalah ketika tubuh ingin melakukan regenerasi sel, tubuh harus bekerja ekstra keras bahkan terkadang ada nutrisi yang tidak tersuplai.

 

  1. Merupakan penyebab kanker serviks ke tiga setelah virus HPV

Banyak orang yang telah mengetahui bahwa kanker serviks disebabkan oleh virus HPV. Namun ternyata pengaruh rokok terhadap kanker serviks tidak kalah berbahaya dari virus HPV.

 

  1. Menambah sel rusak dan membuat sel darah putih bekerja secara ekstra

Sel rusak yang terjadi akibat kandungan di dalam rokok, sudah tidak dapat dihindarkan. Jika Anda merupakan seorang perokok baik itu aktif maupun pasif, ada baiknya Anda mengimbangi dengan mengkonsumsi makanan pencegah kanker serviks.

 

  1. Menurunkan daya tahan tubuh

Pengaruh rokok terhadap kanker serviks yaitu daya tahan tubuh mulai menurun dikarenakan sel-sel tubuh yang kesulitan untuk melakukan regenerasi, dikarenakan hal tersebut, maka seringkali terjadi pasien yang mengalami kanker serviks, kanker getah bening, kanker paru-paru, akan akan mengalam penyakit lainnya seperti mudah terserang flu.

 

  1. Mempercepat penyebaran sel kanker

Pengaruh rokok terhadap kanker serviks terakhir ialah rokok memiliki kandungan yang senyawa dengan logam. Jika kandungan di dalam rokok ini tersebar di dalam tubuh, maka tubuh akan memasuki fase hilang keseimbangan sehingga kurang bisa berfungsi secara optimal. Oleh karena itulah, sebisa mungkin penderita kanker tidak menyentuh rokok terlalu sering.

 

Pada dasarnya wanita yang merokok memiliki kemungkinan untuk terkena penyakit kanker serviks 2x lebih besar dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Apabila Anda merupakan seorang perokok, ada baiknya Anda mulai mengubah pola hidup saat ini. Meningkatkan kesadaran akan kerugian yang ditimbulkan dari merokok serta melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan Anda hidup dengan kondisi tubuh yang sehat.

 

 

Pengaruh Rokok Terhadap Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ciri-Ciri Kanker Serviks pada Pria

Ciri-Ciri Kanker Serviks pada Pria

Ciri-Ciri Kanker Serviks pada Pria

Penyakit kanker memang sangat ditakuti, tidak hanya pada kaum wanita namun juga kaum pria. Beberapa jenis kanker memang bersifat umum, namun beberapa lainnya lebih khusus hanya terjadi pada kaum wanita saja seperti kanker payudara dan kanker rahim, atau hanya terjadi pada kaum pria seperti kanker prostat dan kanker testis. Namun pernahkah Anda mendengar bahwa pria pun juga memiliki resiko yang sama akan bahaya kanker serviks? Ya, kanker yang umumnya dianggap hanya menyerang wanita saja ternyata juga bisa menyerang pria. Kanker serviks yang terjadi pada pria memang tidaklah dapat terjadi secara langsung karena pria tidak memiliki rahim. Namun pria pun beresiko mengalaminya karena virus HPV yang dianggap sebagai pemicu utama munculnya kanker tersebut sangat mudah menular baik pada wanita maupun pria.

 

Kanker serviks merupakan jenis kanker paling mematikan di dunia yang sangat sering menyerang wanita. Meski banyak faktor pemicunya, infeksi virus HPV menjadi penyebab utama munculnya penyakit kanker serviks. Virus tersebut sangat mudah menular lewat hubungan seksual, dan jika sudah menempel pada organ kelamin wanita virus tersebut akan masuk dan mulai menimbulkan kerusakan sel pada permukaan mulut rahim. Kerusakan tersebut lama-kelamaan menjadi sel kanker karena materi genetiknya telah mengalami mutasi. Kanker serviks juga dapat menular dari wanita yang terkena kanker serviks akibat virus HPV, jika ia melakukan hubungan seksual pada pria maka virus akan berpindah tempat sehingga akan ikut menginfeksi organ kelamin laki-laki.

Benarkah Kanker Serviks dapat Terjadi pada Pria ?

Mungkin banyak yang tidak tahu atau mungkin sedikit yang percaya jika mendengar bahwa kanker serviks juga dapat terjadi pada laki-laki. Pasalnya laki-laki tidak memiliki rahim, jadi bagaimana mungkin bisa terkena kanker serviks? Sebenarnya, pria bukan secara langsung mengalami kanker serviks, namun bisa dikatakan sebagai perantara atau pemicu munculnya kanker serviks pada wanita. Kita tahu HPV menjadi agen utama munculnya kanker serviks pada wanita, dan salah satu cara penyebarannya adalah lewat hubungan seksual. Para pria yang terinfeksi memang terkadang tidak mengalami gejala apapun, sehingga pasangan tidak curiga sama sekali.

Umumnya HPV pada pria tidak menyebabkan gangguan kesehatan yang serius, biasanya hanya berupa kutil kelamin yang muncul pada penisnya. Meski begitu beberapa pria beresiko terkena kanker anal atau kanker testis jika terinfeksi HPV, terutama bagi mereka yang merupakan penyuka sesama jenis. Pria yang membawa virus HPV dapat menularkannya pada setiap wanita yang berhubungan seksual dengan pria tersebut. Karena itu sangat penting untuk mengetahui apa saja ciri-ciri kanker serviks pada pria agar lebih mudah mewaspadainya.

 

Ciri-Ciri Kanker Serviks pada Pria

Berikut ini merupakan beberapa ciri-ciri kanker serviks pada pria dan sebaiknya dipahami dengan baik agar dapat terhindar dari bahayanya.

 

  1. Terdapat kutil kelamin

Ciri-ciri kanker serviks pada pria kutil kelamin yang dialami para pria sudah dapat dipastikan disebabkan oleh virus HPV, yang mungkin saja tertular lewat hubungan seksual yang terlalu bebas. Pada penis biasanya akan muncul lesi atau bintil yang terasa gatal maupun perih, sehingga dapat sangat mengganggu si penderita dalam beraktivitas khususnya dalam melakukan hubungan seksual.

 

  1. Alat kelamin terasa gatal

Sama seperti ciri-ciri kanker payudara pada pria, ciri-ciri kanker serviks pada pria juga turut diperhitungkan. Selain terdapat kutil, alat kelamin pria yang terinfeksi HPV juga akan terasa sangat gatal. Meski jarang, rasa gatal tersebut sering diiringi rasa nyeri. Jika seluruh alat kelamin terasa gatal dalam waktu yang lama jangan pernah abaikan karena bisa menjadi lebih buruk lagi.

 

  1. Perubahan pada organ genital

Organ genital atau kelamin pria yang terinfeksi HPV pun akan mengalami kulit pecah-pecah, dengan lesi yang datar atau bentol-bentol yang merekah atau pecah seperti bentuk kembang kol. Jika wanita menemukan pasangannya dalam kondisi demikian, sebaiknya hindari hubungan seksual karena resiko tertular HPV akan sangat besar.

 

  1. Kanker pada organ kelamin

Meski tidak terkena kanker serviks, virus HPV juga dapat menyebabkan kanker testis, kanker penis maupun kanker dubur yang resikonya semakin tinggi pada pria yang melakukan hubungan sesama jenis. Jadi meski pria tidak memiliki rahim tetap saja resiko kanker serviks tetap mengintai terutama pada pasangannya.

 

  1. Suka berganti pasangan

Pria yang sering berganti pasangan dan melakukan hubungan seksual tentu akan sangat beresiko tertular HPV dan menularkannya pada pasangannya yang lain. Hal ini tentu saja berbahaya dan sebaiknya lebih diwaspadai. HPV mungkin tidak menyebabkan gangguan serius pada pria namun sangat menakutkan bila menular pada seorang wanita.

 

Gejala kanker pada pria yang disebabkan virus HPV memang jarang terlihat dan umumnya tidak seberbahaya jika terjadi pada wanita. Karena itu sebaiknya kenali ciri-ciri kanker serviks pada pria maupun wanita. Jika dapat segera terdeteksi tentu penyakit tersebut masih dapat diobati guna mendapatkan kesembuhan.

 

 

 

Ciri-Ciri Kanker Serviks pada Pria

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Prosedur Pengobatan Kanker Serviks

Prosedur Pengobatan Kanker Serviks

Prosedur Pengobatan Kanker Serviks

Prosedur pengobatan kanker serviks tergantung pada beberapa faktor. Misalnya stadium kanker, jenis kanker, usia pasien, keinginan untuk memiliki anak, kondisi medis lain yang sedang dihadapi, dan pilihan pengobatan yang diinginkan. Memutuskan cara pengobatan terbaik bisa sangat membingungkan. Kanker serviks biasanya akan ditangani oleh tim yang terdiri dari dokter dari berbagai spesialisasi. Tim ini akan membantu memilih cara terbaik melanjutkan prosedur pengobatan kanker serviks, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan Anda.

Jenis penanganan menurut stadium kanker terbagi dua. Yang pertama adalah penanganan kanker serviks tahap awal, yaitu operasi pengangkatan sebagian atau seluruh organ rahim, radioterapi, atau kombinasi keduanya. Dan yang kedua adalah penanganan kanker serviks stadium akhir, yaitu radioterapi dan/atau kemoterapi, dan kadang operasi juga perlu dilakukan.

Jika diagnosis kanker serviks sudah diketahui sejak awal, kemungkinan pulih sepenuhnya cukup bagus. Tapi jika kanker sudah menyebar, peluang pulih total akan berkurang. Pada kasus kanker serviks yang tidak bisa disembuhkan, mungkin akan disarankan untuk dilakukan perawatan paliatif. Perawatan jenis ini berfungsi untuk memperlambat penyebaran kanker, memperpanjang usia pasien dan mengurangi gejala yang muncul, misalnya rasa sakit dan pendarahan vagina.

Prosedur Pengangkatan Sel-sel Prakanker

Hasil PAP smear mungkin tidak menunjukkan adanya kanker serviks, tapi bisa dilihat jika terjadi perubahan biologis yang berpotensi menjadi kanker di masa mendatang. Berikut ini adalah beberapa penanganan yang tersedia:

  • Biopsi kerucut: yaitu pengangkatan wilayah tempat jaringan yang abnormal melalui prosedur operasi.
  • Terapi laser: pemakaian laser untuk membakar sel-sel abnormal.
  • LLETZ atau Large Loop Excision of Transformation Zone: sel-sel abnormal dipotong memakai kawat tipis dan arus listrik.

Operasi Pengangkatan Kanker Serviks

Ada tiga jenis operasi utama untuk kanker serviks:

 

  1. Operasi radical trachelectomy

Prosedur pengobatan kanker serviks ini lebih cocok untuk kanker serviks yang terdeteksi pada stadium awal dan akan ditawarkan kepada wanita yang masih ingin memiliki anak. Operasi ini bertujuan mengangkat leher rahim, jaringan sekitarnya, dan bagian atas dari vagina, tanpa mengangkat rahim.

Anda masih berpeluang memiliki anak karena rahim tidak diangkat. Pasca operasi, rahim dan vagina membutuhkan waktu untuk pulih. Akan disarankan menunggu enam bulan hingga setahun setelah operasi sebelum memutuskan untuk hamil.

 

  1. Operasi yang melibatkan pengangkatan rahim

Histerektomi adalah prosedur pengobatan kanker serviks dengan tahap operasi pengangkatan rahim wanita. Histerektomi dilakukan untuk berbagai alasan, salah satunya untuk operasi kanker serviks stadium awal. Agar kanker tidak kembali lagi, radioterapi juga mungkin perlu dilakukan.

Ada dua jenis operasi histerektomi. Pertama, histerektomi sederhana. Ini adalah prosedur di mana leher rahim dan rahim akan diangkat. Pada beberapa kasus, ovarium dan tuba falopi bisa juga turut diangkat. Prosedur ini bisa dilakukan untuk kanker serviks stadium awal.

Yang kedua histerektomi radikal. Leher rahim, rahim, jaringan di sekitarnya, nodus limfa, ovarium, dan tuba falopi, semuanya akan diangkat. Ini operasi yang cenderung dilakukan pada kanker serviks stadium satu lanjutan dan stadium dua pada tahap awal.

Efek samping / komplikasi jangka pendek dari operasi histerektomi adalah:

  • Pendarahan;
  • Infeksi;
  • Risiko cedera pada ureter, kandung kemih, dan rektum;
  • Penggumpalan darah.

Kemungkinan komplikasi jangka panjang dari operasi histerektomi adalah:

  • Ketidakmampuan menahan kencing;
  • Vagina menjadi pendek dan lebih kering, hubungan seksual bisa terasa menyakitkan;
  • Pencernaan dalam usus terhalang karena adanya penumpukan bekas luka. Mungkin diperlukan operasi lagi untuk membukanya;
  • Pembengkakan pada lengan dan kaki karena penumpukan cairan atau limfedema.

Meski risiko komplikasi ini kecil, tapi akan sangat menyulitkan jika terjadi. Dengan histerektomi, kehamilan tidak mungkin terjadi dan jika ovarium diangkat, ini juga bisa memicu terjadinya menopause pada pasien belum mengalaminya.

 

  1. Pelvic exenteration

Pelvic exenteration adalah prosedur pengobatan kanker serviks dengan operasi besar yang hanya disarankan jika kanker serviks kembali muncul setelah pernah diobati dan sempat sembuh. Operasi ini dilakukan jika kanker kembali ke daerah panggul, tapi belum menyebar ke wilayah lain. Setelah operasi, vagina bisa direkonstruksi ulang memakai kulit dan jaringan yang diambil dari bagian tubuh lainnya. Anda tetap bisa melakukan hubungan seks beberapa bulan setelah operasi ini.

Terdapat dua tahapan pelvic exenteration yang harus dilewati. Tahap pertama, kanker akan diangkat bersamaan dengan kandung kemih, rektum, vagina, dan bagian bawah dari usus. Lalu tahap yang kedua, dua lubang yang disebut stoma akan dibuat di perut untuk mengeluarkan urine dan kotoran dari tubuh. Kotoran yang dibuang dimasukkan ke dalam kantung penyimpanan, disebut dengan istilah kantung colostomy.

 

Seluruh tindakan medis tersebut bisa menimbulkan efek samping sehingga penting bagi setiap pasien untuk mengetahui apa saja efek samping yang bisa terjadi. Pasca melakukan prosedur pengobatan kanker serviks tersebut biasanya pasien juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala yakni setiap 4 bulan sekali guna mengetahui apakah kanker tumbuh lagi atau benar-benar sudah bersih. Selain serangkaian medis tersebut guna membantu prosedur pengobatan kanker serviks juga bisa melakukan pengobatan tambahan yakni secara alami. Semoga bermanfaat untuk Anda, dan jangan lupa untuk konsultasikan langsung dengan dokter terdekat atau terpercaya Anda, terima kasih..

 

 

Prosedur Pengobatan Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perawatan Kanker Serviks

Perawatan Kanker Serviks

Perawatan Kanker Serviks

Kanker leher rahim atau yang sering juga disebut kanker serviks merupakan jenis kanker yang menjadi pembunuh wanita terbanyak kedua setelah kanker payudara. Kanker ini sangat ganas dan dapat berkembang dengan sangat cepat. Ciri-ciri kanker serviks yaitu mengalami keputihan yang tidak wajar, sering mengalami pendarahan di luar siklus haid, sakit saat berhubungan seksual, mengalami gangguan pencernaan, berat badan menurun hingga tubuh yang semakin lama semakin lemah. Gejala tersebut muncul secara bertahap sesuai dengan stadium kanker serviks, semakin tinggi stadiumnya maka akan semakin parah pula kondisi penderitanya.

 

Perawatan kanker serviks ini dapat dilakukan sesuai dengan kondisi fisik dan stamina si penderita, seberapa luas penyebaran sel kanker, sejauh apa stadium yang diderita dan usia penderita. Biasanya pengobatan yang dilakukan paling umum adalah kemoterapi kanker. Meski diketahui menyebabkan efek samping yang cukup menyiksa, metode pengobatan tersebut masih menjadi andalan untuk mengatasi berbagai penyakit kanker. Selain pengobatan, beberapa perawatan kanker serviks dianggap dapat membantu meringankan efek samping yang muncul saat proses pengobatan, serta mempercepat proses penyembuhan.

Perawatan Kanker Serviks

Dalam melakukan perawatan kanker serviks, terdapat beberapa metode pengobatan baik secara medis, tradisional hingga tindakan kecil lainnya yang membantu penderita dalam melawan penyakit mematikan tersebut. Adapun tindakan perawatan kanker serviks selain kemoterapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker serviks yaitu sebagai berikut:

 

  1. Radioterapi

Sebenarnya radioterapi juga tidak sepenuhnya bebas dari efek samping, karena radioterapi juga menimbulkan dampak negatif yang hampir sama dengan kemoterapi seperti rasa sakit pada vagina, sulit menahan buang air kecil, panggul terasa sakit dan kulit di sekitarnya terasa nyeri, sakit saat berhubungan seksual, pendarahan vagina hingga kemandulan. Namun keuntungannya jauh lebih besar, yaitu dapat membunuh sel kanker hingga ke akarnya. Biasanya radioterapi dilakukan selama dua bulan, dan setelah dinyatakan sembuh metode ini tetap perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu untuk memastikan bahwa tidak ada sel kanker yang tersisa.

 

  1. Operasi

Tindakan operasi untuk mengangkat sel kanker serviks dapat dilakukan jika sel kanker belum menyebar luas dan belum menimbulkan kerusakan yang cukup parah pada leher rahim. Ada 3 jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu radical trachelectomy yang hanya mengangkat leher rahim, histerektomi yang melibatkan pengangkatan rahim, dan pelvic exenteration yang dilakukan jika kanker serviks kambuh setelah dinyatakan sembuh sebelumnya. Tentu saja operasi pun memberikan efek yang tidak menyenangkan seperti pendarahan, infeksi, kemandulan, dan gangguan kesehatan lainnya.

 

  1. Perawatan Kanker saat Hamil

Jika penderita kanker serviks ternyata sedang hamil, perlu pertimbangan yang cukup matang untuk memutuskan perawatan kanker serviks yang tepat untuk dilakukan. Pertimbangan paling utama biasanya meliputi usia kehamilan dan stadium kanker. Bila stadium kanker masih awal dan usia kehamilan sudah mendekati masa kelahiran, maka perawatan dan pengobatan bisa ditunda sampai bayi dilahirkan. Namun jika kehamilan masih muda sementara kanker sudah memasuki stadium lanjut, maka pengobatan yang dilakukan dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur. Butuh kebijakan yang benar-benar matang agar dapat memutuskan tindakan terbaik untuk dilakukan.

 

  1. Pengobatan secara Tradisional

Ada banyak jenis obat herbal yang dapat digunakan untuk mengatasi kanker serviks. Beberapa di antaranya adalah daun sirsak, kulit manggis dan tumbuhan obat lainnya. Cara mengobati kanker serviks dengan daun sirsak sering dilakukan oleh penderita yang terbatas dari segi biaya atau dari sisi medis sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh. Keuntungan dari pengobatan secara tradisional adalah minimnya efek samping dan biaya yang lebih terjangkau, namun biasanya pembuktian secara ilmiah masih belum mencukupi untuk membuktikan keampuhan metode pengobatan tersebut. Selain diharapkan dapat menyembuhkan, pengobatan secara tradisional sering digunakan bersama pengobatan medis untuk menekan efek samping dari kemoterapi.

 

  1. Perawatan selain Tindakan Medis dan Tradisional

Selain menjalani pengobatan baik secara medis maupun tradisional, perawatan harian juga tidak kalah penting untuk dilakukan. Tindakan ini mungkin akan membutuhkan bantuan dari anggota keluarga yang merawat penderita selama menjalani pengobatan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:

  • menghindari penggunaan pembalut yang tidak aman dan higienis
  • menjaga kebersihan organ kewanitaan
  • menghindari konsumsi makanan yang tidak sehat
  • olahraga secara teratur yang disesuaikan dengan kondisi fisik
  • mengkonsumsi makanan yang tinggi nutrisi dan makanan pencegah kanker
  • hindari berbagai penyebab munculnya kanker serviks dan biasakan untuk menjalani pola hidup sehat
  • melakukan perawatan lanjutan setelah pengobatan selesai dilakukan untuk memastikan sel kanker benar-benar musnah tidak tersisa.

 

Itulah perawatan kanker serviks yang bisa dilakukan untuk menunjang proses penyembuhan. Semangat untuk dapat sembuh tentu diperlukan, karena rasa optimis dapat mengalahkan rasa sakit dan meningkatkan keinginan untuk bisa segera sembuh. Sebaiknya lakukan berbagai cara untuk mencegah kanker serviks sebelum penyakit tersebut menyerang.

 

 

Perawatan Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kanker Ovarium Pada Ibu Hamil

Kanker Ovarium Pada Ibu Hamil

Kanker Ovarium Pada Ibu Hamil

Kanker ovarium merupakan kanker yang menyerang sel indung telur. Kanker ini termasuk dari sepuluh kanker yang sering terjadi pada wanita Indonesia. Risiko kanker ovarium selama masa kehamilan pada umumnya cukup rendah, yakni 1:18.000 dari tiap kehamilan.

Kanker ovarium yang terjadi pada masa kehamilan biasanya dapat terdeteksi lebih cepat. Hal ini dikarenakan orang yang sedang mengandung lebih sering periksa ke dokter kandungan untuk melihat kondisi janin yang dikandungnya. Jika Anda didiagnosis menderita kanker ovarium saat hamil, Anda harus mengonsultasikannya pada beberapa ahli agar mendapatkan solusi terbaik, misalnya pada ahli kanker, dokter kandungan, dan dokter anak.

 

Gejala dan Tanda Kanker Ovarium Pada Ibu Hamil

Gejala dan tanda kanker ovarium pada ibu hamil sama dengan gejala saat tidak sedang hamil. Pada fase awal biasanya tidak ada gejala dan ciri yang berarti. Kalaupun Anda merasakannya, mungkin terasa ringan hingga sulit dibedakan dari ketidaknyamanan yang ditimbulkan karena kehamilan itu sendiri.

Berikut gejala yang biasanya menandai kanker ovarium:

  • Perut terasa kembung dan nyeri
  • Mulas
  • Kurang nafsu makan
  • Merasa cepat kenyang saat makan
  • Sering buang air kecil
  • Kelelahan
  • Nyeri punggung
  • Sembelit (susah buang air besar hingga berhari-hari atau berminggu-minggu)

Beberapa gejala di atas umumnya memungkinkan muncul saat kehamilan. Namun, jika Anda merasakan kondisi yang lebih buruk, segara konsultasikan ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Tes yang Dilakukan Untuk Kanker Ovarium Pada Ibu Hamil

Biasanya dokter akan melakukan serangkaian pengujian untuk mendiagnosis kanker. Diagnosis biasanya dilakukan dengan ultrasound (USG), MRI, serta CT scan. Namun, CT scan menghasilkan radiasi yang tidak aman untuk bayi yang dikandung. Sehingga MRI dan ultrasound bisa menjadi alternatif karena cenderung jauh lebih aman.

Tes darah CA-125 (penanda tumor untuk kanker ovarium) juga biasanya dilakukan untuk mendiagnosis kanker ovarium, tapi tidak sepenuhnya akurat selama kehamilan. Ini karena kehamilan dapat meningkatkan CA-125 itu sendiri.

 

Langkah yang Diambil Untuk Pengobatan Kanker Ovarium Pada Ibu Hamil

Tujuan pengobatan kanker ovarium pada ibu hamil ialah untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Pengobatan yang akan Anda pilih tergantung pada seberapa parah kondisi kanker Anda dan bagaimana efeknya pada tubuh. Dalam hal ini, dokter akan lebih mengetahui mana solusi terbaik untuk penyembuhannya. Umumnya terdapat dua jenis pengobatan yang biasa dilakukan, yaitu:

 

  1. Pembedahan

Jika diperlukan pembedahan, maka hal itu bisa dilakukan setelah Anda melahirkan. Lain halnya jika selama kehamilan Anda merasakan rasa sakit yang luar biasa atau ada komplikasi lain seperti perdarahan. Maka pembedahan saat kehamilan mungkin diperlukan. Semua ini kembali pada keputusan dokter yang memahami mana langkah tepat yang seharusnya diambil.

Pada stadium awal, biasanya pembedahan akan dilakukan untuk mengangkat bagian dari ovarium yang terkena sel kanker. Namun, jika kanker telah telah menyebar ke seluruh ovarium, ada kemungkinan pengangkatan rahim akan dilakukan.

Jika kehamilan kurang dari 24 minggu, pengangkatan rahim jelas akan mengakhiri kehamilan dan janin tidak akan bertahan. Tetapi, jika usia kehamilan sudah lebih dari 24 minggu tapi masih kurang dari 36 minggu, diperlukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi.  Selanjutnya proses pengangkatan rahim baru akan dilakukan. Semua pertimbangan mengenai pembedahan bisa Anda konsultasikan langsung pada dokter kandungan dengan sejelas-jelasnya.

 

  1. Kemoterapi

Studi di Eropa menyatakan kemoterapi bisa dijalani pada masa kehamilan. Janin yang ibunya mendapat kemoterapi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan dapat berkembang secara normal. Namun, kemoterapi umumnya tidak dianjurkan selama trimester pertama, karena berisiko cacat lahir. Terapi radiasi di trimester pertama juga dikhawatirkan akan membawa dampak berbahaya bagi bayi Anda.

 

Efek Kanker Ovarium Pada Janin

Menurut para ahli, kanker ovarium bukan salah satu jenis kanker yang bisa menyebar ke janin. Jika Anda dalam perawatan dokter, biasanya tim dokter akan terus melakukan pemantauan untuk memastikan bahwa kanker Anda tidak memengaruhi bayi yang ada dalam kandungan.

Apapun pengobatan yang Anda jalani, perlu pemantauan yang ketat demi terjaganya kondisi ibu dan bayi. Selain itu, konsultasikan selalu perkembangan kondisi Anda pada dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik.

 

 

Kanker Ovarium Pada Ibu Hamil

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kanker Ovarium Pada Remaja

Kanker Ovarium Pada Remaja

Kanker Ovarium Pada Remaja

Kanker ovarium pada remaja adalah kondisi di mana tumor ganas tumbuh berkembang di dalan indung telur, di mana sel-sel telur juga hormon wanita (estrogen dan progesteron) dihasilkan. Kanker ovarium jika diketahui pada stadium awal dapat diobati secara efektif. Namun, sangat sulit untuk mendiagnosis penyakit ini pada stadium awal.

 

Seberapa umumkah kanker ovarium?

Kanker ovarium biasa terjadi pada wanita berusia menengah dan wanita yang telah lanjut usia. Kasus yang paling fatal terjadi pada wanita yang berumur di atas 55 tahun. Tapi jangan salah kira wanita muda tidak beresiko terkena penyakit kanker ovarium pada remaja ini. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan mengurang faktor-faktor risiko. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

 

Tanda-tanda & gejala

Tanda-tanda dan gejala kanker ovarium pada remaja biasanya tidak jelas, terutama pada stadium awal. Banyak penderita bahkan dokter dapat keliru dan mengira gejala penyakit ini adalah tanda-tanda penyakit lain. Secara umum, tanda-tanda dan gejala yang biasa terjadi adalah:

  • Perut mengalami kembung dan meregang
  • Mudah merasa kenyang ketika makan
  • Hilangnya berat badan
  • Tidak nyaman di bagian panggul
  • Adanya perubahan pada proses pencernaan, seperti konstipasi
  • Sering buang air kecil

 

Gejala lainnya termasuk:

  • Perubahan pada menstruasi
  • Mual, muntah, pencernaan sulit, anorexia, perut kembung
  • Sakit punggung tanpa alasan yang jelas
  • Terjadi pendarahan di bagian vagina pada saat tidak sedang menstruasi

 

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

 

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Silakan hubungi dokter Anda jika Anda merasakan tanda-tanda dan gejala kanker ovarium pada remaja. Selain itu, jika anggota keluarga Anda ada yang memiliki kanker ovarium atau kanker payudara, maka sebaiknya Anda sering melakukan pemeriksaan untuk pencegahan. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

 

Penyebab

Hingga saat ini dokter tidak memiliki kesimpulan pasti untuk masalah ini. Secara umum, kanker biasanya terjadi dikarenakan adanya perubahan gen pada tubuh kita, yang menyebabkan sel-sel normal berkembang menjadi sel-sel kanker. Kemudian, sel-sel tersebut akan menduplikasi diri dan membuat tumor. Selain itu, sel-sel ini juga menyerang sel-sel sekitarnya dan menyebar ke organ lainnya.

 

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. Selalu konsultasikan pada dokter Anda.

Pembedahan merupakan metode yang paling umum dilakukan untuk pengobatan kanker ovarium tanpa memperhatikan stadiumnya. Untuk stadium-dini, hanya dapat dilakukan metode pembedahan; indung telur dan tuba fallopi akan diangkat jika kanker telah menyebar ke organ tersebut. Selain itu, rahim dan organ lainnya pada bagian panggul dan perut juga akan diangkat jika telah organ tersebut telah terkena kanker. Berikutnya, kemoterapi akan dilakukan untuk menghiangkan sel-sel kanker yang tersisa. Akhirnya, dokter akan meminta pasien untuk sering melakukan pemeriksaan kesehatan.

 

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk kanker ovarium?

Dokter dapat mendiagnosis kanker ovarium pada remaja berdasarkan gejala yang muncul dan uji klinis. Diagnosis dilakukan dengan pencitraan (seperti ultrasonografi, MRI, CT scan) juga dapat memperlihatkan tanda-tanda kanker.

Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah tumor di ovarium termasuk tumor jinak atau ganas. Biopsi adalah metode yang dilakukan dengan cara mengambil jaringan kecil dari tumor untuk dilihat dibawah mikroskop.

Dokter juga dapat melakukan pembedahan untuk mengetahui stadium dari kanker (stadium menunjukan seberapa luas penyebaran kanker). Terkadang, antigen kanker (CA-125, sebuah zat di dalam darah) dapat membantu diagnosis.

 

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker ovarium?

 

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi kanker ovarium:

  • Tetap ikuti pemeriksaan dokter untuk mengikuti perkembangan penyakit juga untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda
  • Ikutilah petunjuk yang diberikan oleh dokter Anda dan jangan mengonsumsi obat tanpa mengonsultasikannya dengan dokter Anda terlebih dahulu. Jangan lupa mengonsumsi obat yang telah dianjurkan oleh dokter Anda.
  • Hubungi dokter Anda mengenai efek samping dari obat yang Anda konsumsi
  • Konsumsilah makanan yang sehat, seperti sayuran, biji-bijian, dengan kandungan lemak yang sedikit
  • Jagalah berat badan Anda dan tetap berolahraga

 

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

 

 

 

Kanker Ovarium Pada Remaja

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dampak Buruk Kanker Rahim

Dampak Buruk Kanker Rahim

Dampak Buruk Kanker Rahim

Kanker rahim merupakan penyakit berbahaya yang menyerang badan rahim tepatnya lapisan endometrium. Jenis kanker ini biasanya menyerang wanita yang usianya telah mendekati masa menopause atau bahkan mereka yang telah memasuki masa menopause.

Terlebih jika penyakit tersebut merupakan penyakit berbahaya seperti kanker rahim. Perubahan yang terjadi pada penderita bisa berasal dari ganasnya sel-sel kanker yang menyerang rahim atau bisa pula sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang tengah dijalani. Dampak buruk kanker rahim yang terjadi antara satu penderita dengan penderita lainnya mungkin berbeda tergantung dari banyak hal, namun secara umum penderita akan mengalami beberapa dampak buruk kanker rahim seperti berikut ini :

 

  1. Kerontokan Pada Rambut

Dalam pandangan orang awam, penderita kanker cukup erat kaitannya dengan kondisi kerontokan pada rambut. Hal ini sebenarnya disebabkan karena salah satu metode pengobatan untuk penderita kanker yaitu kemoterapi. Kemoterapi atau kemo biasanya dilakukan untuk mengobati penderita kanker rahim yang telah memasuki stadium lanjut (stadium 3 dan 4). Metode pengobatan ini dapat dilakukan sebagai metode utama karena penderita tidak ingin menjalani operasi, atau dapat pula dilakukan sebagai pengobatan penunjang penderita pasca menjalani operasi demi menghambat penyebaran kanker dan mengurangi gejalanya. Selain efek samping dari kemoterapi, kerontokan pada rambut pun dapat terjadi akibat efek dari radioterapi. Dampak buruk kanker rahim ini dapat terjadi apabila penggunaan radioterapi ditujukan pada daerah kepala.

 

  1. Mual dan Muntah

Mual dan muntah merupakan salah satu efek yang juga dirasakan oleh penderita kanker rahim. Efek ini juga termasuk akibat dari metode pengobatan kemoterapi. Beberapa penderita bahkan dapat mengalami muntah hingga sebanyak 10 kali dalam sehari ketika kemoterapi telah dilakukan. Namun kondisi ini sangat tergantung dari kesehatan penderita. Semakin baik kondisi kesehatan penderita maka dampak buruk kanker rahim ini pun akan semakin sedikit dirasakan.

Selain sebagai efek dari kemoterapi, pengobatan radioterapi pun ternyata mampu menimbulkan rasa mual dan muntah terhadap penderita. Dampak buruk kanker rahim ini akan dialami oleh penderita jika ia melakukan radioterapi pada bagian perut.

 

  1. Penurunan Berat Badan

Berat badan yang turun secara signifikan dalam kurun waktu singkat merupakan salah satu efek yang sangat terlihat pada penderita kanker rahim. Penurunan berat badan ini dapat disebabkan oleh ganasnya sel kanker yang menyerang ataupun sebagai akibat dari pengobatan yang dijalani. Kemoterapi dan radioterapi nampaknya juga memberikan efek yang cukup banyak terhadap penurunan berat badan, karena kedua pengobatan tersebut menimbulkan rasa mual dan muntah hingga nafsu makan penderita berkurang dan pada akhirnya badan semakin terkikis.

 

  1. Rasa Sakit Pada Beberapa Bagian Tubuh

Kanker rahim yang sudah memasuki stadium lanjut akan mendorong penderitanya untuk terus melakukan segala jenis pengobatan, baik itu operasi, kemoterapi, radioterapi, dan pengobatan lainnya. Segala pengobatan tersebut ditempuh dengan tujuan untuk menyembuhkan penderita dari kanker. Namun kenyataannya dari banyak kasus kanker yang ada, penderita justru merasa semakin lemah akibat melakukan pengobatan secara terus menerus. Tak jarang pula dari mereka yang mengeluh sakit pada beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, perut, punggung, panggul, dll. Rasa sakit ini dapat merupakan efek dari pengobatan yang telah dijalani atau bahkan karena sel kanker yang mulai menyebar ke bagian-bagian tubuh tersebut.

 

  1. Kelelahan yang Sering dan Berkepanjangan

Tak hanya rasa sakit pada tubuh yang dirasakan oleh penderita kanker rahim. Rasa lelah yang berkepanjangan pun kian hari kian dialami. Kondisi ini sebenarnya merupakan efek samping dari kemoterapi dan radioterapi. Selama kedua terapi tersebut dijalani, tubuh penderita akan menggunakan lebih banyak energi untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dampak buruk kanker rahim akan merasa lelah pun seringkali dialami dan biasanya tidak serta merta hilang dengan beristirahat. Namun biasanya rasa lelah ini akan sirna secara bertahap dalam beberapa minggu setelah terapi ini berlangsung.

 

  1. Sakit Kepala

Sakit kepala merupakan dampak buruk kanker rahim yang sering terjadi terutama setelah menjalani operasi histerektomi. Histerektomi merupakan operasi pengangkatan rahim yang biasa dilakukan pada kasus kanker rahim.

 

  1. Rentan Terhadap Penyakit Lain

Pada beberapa kasus kanker rahim, penderita yang menjalani operasi histerektomi menjadi rentan terhadap serangan penyakit lain seperti penyakit jantung, osteoporosis, keluhan pada sendi, keluhan pada perkemihan, dan juga hipertensi. Namun, hal ini sangatlah bergantung pada banyak hal salah satunya adalah usia, kondisi kesehatan penderita secara menyeluruh, dan penyebaran sel kanker.

 

  1. Sulit Berjalan

Kesulitan saat berjalan merupakan efek yang biasanya terjadi pada penderita kanker rahim stadium lanjut yang sudah menjalani pengobatan berulang kali. Kondisi ini termasuk efek samping dari kemoterapi dan juga radioterapi. Memang tidak semua penderita akan mengalami dampak buruk kanker rahim ini tetapi banyak diantara mereka yang mengalaminya, terlebih jika usia penderita sudah memasuki usia lanjut.

 

  1. Perubahan Warna Kulit

Pengobatan dengan metode radioterapi memberikan dampak buruk kanker rahim berupa perubahan pada warna kulit. Beberapa perubahan yang biasanya terjadi adalah kulit akan tampak berwarna kemerahan terutama pada area tubuh yang biasa terkena sinar radioterapi. Selain perubahan warna, biasanya kulit juga mengalami perubahan tekstur seperti kulit menjadi kering, tebal, pecah-pecah, bersisik, terkelupas, gatal, dan terasa perih.

 

Beberapa efek tersebut adalah dampak buruk kanker rahim yang biasa terjadi. Meski demikian efek dari penyakit berbahaya ini mungkin tidak sama antara satu orang dengan orang lain. Meskipun penderita mengalami satu atau beberapa dari efek tersebut namun sebaiknya pengobatan tidak dihentikan, dan jangan lupa untuk tetap berkonsultasi dengan dokter.

 

Dampak Buruk Kanker Rahim

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Kanker rahim adalah sebuah jenis kanker yang menyerang rahim atau sistem reproduksi wanita. Kanker ini juga sering disebut kanker endometrium karena umumnya muncul dengan menyerang sel-sel yang membentuk dinding rahim atau istilah medisnya endometrium.

Para wanita harus lebih waspada terhadap kesehatan rahimnya karena selain kanker serviks, kanker rahim pun mampu membahayakan nyawa. Mungkin kita akan menjadi penasaran apa-apa saja yang menyebabkan kanker rahim di dalam tubuh. Meski belum secara jelas diketahui, berikut di bawah ini bisa dilihat apa saja yang menjadi pemicu terjadinya kanker rahim:

 

  1. Usia

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, usia seorang wanita yang masuk 50 tahun menjadi pemicu terjadinya kanker rahim yang potensinya sangat besar. Apalagi setelah masa menopause, risiko akan menjadi lebih meningkat dari sebelum menopause. Maka check up ke dokter secara rutin sangat dianjurkan sehingga kanker dan penyebarannya bisa diketahui dini.

 

  1. Pajanan terhadap Estrogen

Para wanita wajib untuk berhati-hati dan selalu waspada akan tingginya risiko mengidap kanker rahim, apalagi kalau tingkat pajanan terhadap estrogen makin tinggi. Sesudah menopause, akan terjadi perhentian produksi hormon progesteron, sementara produksi hormon estrogen tetap jalan meski memang terjadi penurunan kadar secara drastis. Setelah menopause selesai, pemicu terjadinya kanker rahim lebih tinggi karena adanya peningkatan kadar hormon estrogen yang tak seimbang dengan hormon progesteron.

Tapi para wanita yang mulai datang bulan di usia yang sangat mudah juga perlu khawatir karena risiko mereka mengalami kanker rahim pun cukup tinggi. Ini dikarenakan peristiwa pajanan estrogen terjadi lebih lama bila membandingkannya dengan mereka yang datang bulan lebih lambat atau yang melalui masa menopause di umur yang seharusnya. Maka dari itu, penting untuk memeriksakan kondisi tubuh serta mengikuti perkembangan normal tidaknya hormon dalam tubuh agar terdeteksi awal apakah ada ketidakberesan di sana.

 

  1. Pemakaian Tamoksifen

Tamoksifen adalah sejenis obat yang memiliki kemampuan dalam menaikkan pemicu terjadinya kanker rahim untuk para pengonsumsinya. Tentu saja setiap obat yang kita konsumsi selalu memberikan efek samping, namun satu obat dan lainnya memberikan efek samping serta risiko yang berbeda. Bagi para wanita yang merasa mengonsumsi tamoksifen, kewaspadaan harus ditingkatkan karena kanker rahim dapat menyerang.

 

  1. Diabetes Tipe 2

Wanita dengan risiko diabetes tipe 2 memiliki potensi terjangkit kanker rahim lebih tinggi juga daripada para wanita tanpa risiko diabetes. Maka bila memang merasa mempunyai risiko tersebut, sebaiknya langsung coba pastikan dengan memeriksakan diri ke dokter karena kondisi rahim dalam hal ini termasuk terancam.

 

  1. Belum Pernah Mengalami Kehamilan

Kadar estrogen lebih rendah dari kadar progesteron di saat wanita sedang hamil dan itulah yang membuat pemicu terjadinya kanker rahim lebih tinggi menyerang wanita-wanita yang belum pernah mengalami proses kehamilan. Jadi tak ada salahnya rajin kontrol kesehatan selama belum hamil untuk mengecek kondisi rahim kita.

 

  1. Sindrom Ovarium Polisistik

Bagi para wanita yang mengidap sindrom jenis ini, atau yang juga kita kenal dengan istilah ovarium polisistik, pemicu terjadinya kanker rahim menjadi lebih tinggi. Mengapa demikian? Alasannya adalah karena wanita dengan sindrom ini bakal lebih tinggi pajanannya akan kadar estrogen yang artinya juga menaikkan potensi rahim diserang sel-sel kanker.

 

  1. Obesitas

Bahaya obesitas tak hanya sebatas pada penyakit kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, jenis-jenis penyakit jantung yang mematikan, asam urat, atau bahkan stroke. Obesitas pun mampu menaikkan potensi seorang wanita mengalami kanker rahim. Kelebihan berat badan adalah hal yang sebenarnya bisa diatasi dengan melakukan diet sehat dan seimbang secara benar, jadi tidak ada alasan bahwa kita tak mampu mengendalikan bobot tubuh.

Bahkan diketahui bahwa wanita dengan kelebihan berat tubuh malah memiliki kadar estrogen yang jauh lebih tinggi dan inilah faktor yang otomatis menaikkan pemicu terjadinya kanker rahim bahkan bisa lebih dari 2 kali. Sebabnya adalah karena hormon estrogen terproduksi lebih banyak oleh jaringan lemak yang menumpuk di dalam tubuh.

 

 

Pemicu Terjadinya Kanker Rahim

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?Kanker serviks atau kanker leher rahim pada umumnya disebabkan oleh human paillomavirus atau HPV. Virus ini dapat tertular lewat hubungan seksual, tetapi pengetahuan tepat mengenai virus ini masih simpang siur. Faktanya, dalam sebuah survei yang digelar Jo’S Cervical Cancer Trust, seperti dilansir dari Cosmopolitan, 51 persen partisipan perempuan tidak tahu pasti mengenai infeksi HPV yang berisiko kanker serviks.

Pada saat ini banyak sekali orang diluaran sana yang bertanya “apakah kanker rahim bisa menular ?” atau tidak ? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mereka lontarkan karena mungkin mereka takut akan terular kanker pada saat mengunjungi atau menjenguk teman, kerabat mereka yang terkena kanker rahim.

Selain mendapatkan jawaban dari pertanyaan “apakah kanker rahim bisa menular” atau tidak disini Anda juga bisa mendapatkan informasi lainnya seputar kanker rahim itu sendiri.

 

Lantas apakah kanker rahim bisa menular atau tidak ? Ini dia Jawabannya

Penyakit kanker rahim TIDAK MENULAR, akan tetapi virus HPV penyebab utama dari kanker rahim ini sangat menular. Perlu Anda ketahui virus HPV yang merupakan penyebab utama seseorang terkena kanker rahim ini bisa ditularkan melalui kontak seksual.

 

Akan tetapi menurut Dr. Andi Darma Putra, Sp. OG. (K) Onk, Staff Pengajar obstetri dan ginekologi di FKUI – Jakarta yang menyatakan bahwa :

Menularnya virus HPV bukan saja terjadi melalui kontak / hubungan seksual saja, melainkan dapat menular melalui hal apa saja yang memungkinkan adanya kontak langsung dengan kelamin yang terinfeksi. Pada saat virus menginfeksi, awalnya kondisi ini tidak memicu munculnya gejala, akan tetapi infeksi ini dapat berkembang menjadi kanker setelah 10-15 tahun kemudian (tanpa Anda sadari). Gejala yang muncul pada saat terjadi kanker pun diantaranya akan mengalami gejala seperti panggul terasa nyeri, kandung kemih mengalami masalah, kebocoran vagina, perdarahan pada saat melakukan aktifitas seksual hingga keputihan abnormal.

 

Pernyataan di atas berhubungan dengan yang di katakan oleh Stacy Wiegman, PharmD yaitu kanker serviks tidak menular, namun virus HPV (penyebab utama) dapat menular.

Stacy Wiegman sebagai penderita kanker serviks, mengatakan bahwa kanker serviks tidak menular. Tapi HPV, yang dianggap sebagai penyebab kebanyakan kasus kanker serviks dapat menular. Ada banyak jenis HPV, dan tidak semua dari mereka dapat menyebabkan kanker, kita tidak akan mengetahui HPV mana yang dapat menyebabkan kanker. Untuk mencegah HPV, selalu menggunakan kondom, namun hal tersebut tidak akan melindungi 100% karena kontak kulit-ke-kulit juga dapat menjadi media penyebarannya.

 

Penyampaian yang dikatakan oleh Honor Society of Nursing (STTI) dan Larry E. Puls, MD juga sama dengan Stacy Wiegman yaitu kanker serviks tidak menular, tapi virus HPV bisa menular ungkapnya.

Apakah kanker rahim bisa menular ? Kanker serviks tidak lah menular, tapi tubuh kita dapat tertular virus human papillomavirus (HPV), yang menjadi salah satu penyebab utama kanker serviks. Ada vaksin HPV, yang dapat membantu mencegah tertularnya HPV dan kanker serviks, meskipun vaksin tidak menyembuhkan kanker serviks. Menghindari kontak kulit dengan seseorang dengan infeksi HPV dan menjaga pasangan dapat menurunkan risiko terkena HPV.

 

 

KESIMPULAN :

Apakah kanker rahim bisa menular ? Kanker serviks tidak serta merta dapat menular secara langsung kepada orang lain. Akan tetapi virus HPV yang menjadi pemicu kanker tersebut dapat menular kepada orang lain. Penyebab kanker adalah HPV, baik pria maupun wanita dapat memiliki virus ini. Kanker serviks tidak menular tapi penyebabnya sangat berbahaya seperti HPV ini. Terjadi penularan HPV biasanya infeksi virus tersebut baru berkembang menjadi kanker setelah 10 sampai 15 tahun kemudian. Meskipun penularan kanker rahim ini tidak terjadi secara langsung melainkan butuh waktu hingga puluhan tahun untuk menjadi kanker.

Hal ini patut Anda perhatikan, karena bisa saja disaat kanker tumbuh dari virus HPV tersebut, kanker sudah mulai masuk ke stadium lanjut seperti stadium 3 dan stadium 4. Maka dari itu diharuskan bagi Anda untuk selalu rutin melakukan pengecekan dengan memeriksakan diri Anda ke dokter. Karena dengan cara itu, jika sudah mulai terlihat tanda-tanda kanker bisa langsung segera diatasi dengan melakukan pengobatan.

 

Apakah Kanker Rahim Bisa Menular ?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Komplikasi Kanker Serviks

Komplikasi Kanker Serviks

Komplikasi Kanker Serviks

Umumnya kanker serviks ditemukan pada stadium lanjut, ketika penyakit sudah cukup parah. Pada stadium kanker ini, berbagai masalah kesehatan muncul pada penderita. Komplikasi kanker serviks mulai muncul dan memperberat kondisi pasien.

Komplikasi kanker serviks dapat terjadi sebagai efek samping dari pengobatan atau sebagai hasil dari kanker itu sendiri. Dalam artikel ini akan dibahas berbagai komplikasi yang mungkin muncul pada kanker serviks.

 

  1. Menopause Dini

Penderita kanker serviks yang menjalani operasi pengangkatan ovarium atau menjalani pengobatan radioterapi dapat memicu terjadinya menopause dini. Kebanyakan perempuan mengalami menopause di usia 50an. Namun komplikasi kanker serviks bisa lebih cepat dari itu. Menopause terjadi karena ovarium (indung telur) berhenti memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Pengobatan ini sering disebut sebagai terapi sulih hormon (Hormone Replacement Therapy (HRT)).

 

  1. Vagina Menyempit

Radioterapi (terapi dengan penyinaran) untuk kanker serviks dapat mengakibatkan vagina menjadi sempit sehingga menyebabkan nyeri atau sulit ketika berhubungan intim. Ada 2 penanganan utama yang dapat dipilih untuk kasus komplikasi kanker serviks ini. Penanganan pertama adalah mengoleskan krim hormonal pada vagina. Efeknya adalah peningkatan kelembaban dalam vagina sehingga memudahkan dalam hubungan intim.

Penanganan yang kedua adalah penggunaan vagina dilator. Vagina dilator adalah alat berbentuk tampon yang terbuat dari plastik. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina dan efeknya membuat vagina jadi lebih lemas atau lunak. Alat ini direkomendasikan dimasukkan sekitar 5-10 menit setiap hari selama 6-12 bulan.

 

  1. Limfedema

Pengangkatan nodus limfe (kelenjar getah bening) di pinggul kadang berakibat pada terganggunya sistem limfe (getah bening). Salah satu fungsi sistem limfe adalah untuk mengeluarkan cairan yang berlebih dari jaringan tubuh. Terganggunya fungsi ini dapat mengakibatkan penumpukan cairan di jaringan yang disebut juga lymphoedema. Akibatnya beberapa bagian tubuh membengkak, pada kasus kanker serviks biasanya terjadi pada kaki. Komplikasi kanker serviks ini bisa dikurangi dengan latihan dan massage. Bisa juga dengan menggunakan pakaian tertentu yang memberi tekanan pada bagian yang bengkak.

 

  1. Pengaruh Emosional

Pengaruh emosional pada penderita kanker serviks sangat umum terjadi. Banyak ditemukan komplikasi kanker serviks efek “rollercoaster”. Dinamakan rollercoaster karena emosi yang naik turun. Misalnya, penderita kanker serviks merasa sangat sedih ketika mengetahui penyakitnya, tapi perasaannya akan membaik ketika kanker telah diangkat. Penderita dapat merasakan sedih (down) kembali ketika mengetahui efek-efek yang akan dirasakan setelah pengobatan.

Gangguan emosional seperti ini bisa memicu depresi. Tanda-tanda depresi di antaranya adalah perasaan sedih, tidak ada harapan, putus asa, kehilangan ketertarikan atau minat pada hal-hal yang biasanya disukai.

 

  1. Gagal Ginjal

Ginjal manusia berfungsi menyaring “sampah” dari darah. Produk sisa ini akan dikeluarkan dari tubuh melalui urin melalui saluran bernama ureter. Pada beberapa kasus kanker serviks stadium lanjut, sel kanker dapat menekan ureter sehingga mengganggu aliran urin dari ginjal. Urin yang terganggu penyalurannya akan menumpuk dalam ginjal atau disebut juga dengan hidronefrosis. Hal ini bisa menyebabkan komplikasi kanker serviks yaitu ginjal membengkak dan membesar.

Penanganan gagal ginjal yang disebabkan oleh kanker serviks bisa dilakukan dengan pembuatan saluran untuk mengeluarkan urin yang menumpuk dari ginjal dengan selang yang dimasukkan melalui kulit ke masing-masing ginjal (nefrostomi perkutan). Selain itu bisa juga dengan melebarkan saluran ureter dengan memasukkan cincin logam (stent) di dalamnya.

 

  1. Penggumpalan Darah

Sebagaimana halnya dengan kanker-kanker lainnya, kanker serviks dapat menyebabkan darah menjadi lebih kental sehingga mudah terjadi penggumpalan. Tirah baring (bed rest) setelah operasi dan kemoterapi juga dapat meningkatkan risiko pembentukan gumpalan.

Tumor yang besar dapat menekan pembuluh darah vena di panggul sehingga menyebabkan lambatnya aliran darah. Hal ini menyebabkan penggumpalan darah di daerah kaki. Hal yang sangat diwaspadai dari terjadinya gumpalan darah ini adalah gumpalan ini dapat mengalir terbawa aliran darah ke paru-paru dan menyumbat aliran darah di sana. Komplikasi kanker serviks ini dikenal dengan embolisme paru. Efeknya fatal, bisa menyebabkan kematian.

 

  1. Fistula

Fistula adalah saluran yang tidak normal yang menghubungkan dua bagian pada tubuh. Pada kebanyakan kasus kanker serviks, fistula terbentuk di antara kandung kemih dan vagina. Kelainan ini menyebabkan adanya cairan urin yang keluar terus menerus dari vagina (berasal dari kandung kemih). Selain itu fistula juga dapat terbentuk antara vagina dan rektum.

Fistula merupakan komplikasi kanker serviks yang tidak umum. Kejadiannya 1:50 kasus kanker stadium lanjut. Penanganannya adalah dengan operasi. Meskipun kadang ini sulit dilakukan untuk penderita kanker serviks karena kondisinya yang rapuh sehingga tidak sanggup menghadapi efek operasi. Selain operasi, gejala fistula bisa diatasi dengan penggunaan obat untuk mengurangi cairan yang keluar serta penggunaan krim atau lotion untuk mengatasi kerusakan jaringan di sekitarnya dan mencegah iritasi.

 

  1. Cairan Berbau Dari Vagina

Komplikasi kanker serviks lain yang tidak umum terjadi tapi mengganggu adalah keluarnya cairan berbau tidak sedap dari vagina. Keluarnya cairan ini bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti kerusakan jaringan, kebocoran dari kandung kemih atau rektum melalui vagina, atau infeksi bakteri pada vagina.

Penanganannya adalah dengan memberikan gel antibakteri yang mengandung metronidazol dan menggunakan pakaian yang mengandung karbon (arang). Karbon atau arang efektif dalam menyerap bau yang tidak sedap.

 

 

Komplikasi Kanker Serviks

Posted in Uncategorized | Leave a comment